Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lahir di era dunia sedang diperhadapkan dengan konflik ideologi antara komunisme dan kapitalisme, serta kondisi negara secara internal sedang diperhadapakan pada konflik ideologi.
—
HMI kini memasuki 26 tahun abad dua satu, dari fase ke fase Himpunan Mahasiswa Islam tetap memiliki karakteristik keumatan dan kebangsaan.
Pilar ini terus menjadi esensi dalam setiap gerak baik dalam aspek internal maupun eksternal.
Di era ini, sering disebut dengan era keterbukaan namun HMI masih memiliki pondasi nilai sebagaimana tertuang dalam NDP BAB 7-Islam dan Ilmu Pengetahuan.
Meski sebagian dari kader terindikasi mengabaikannya, tetapi hal tersebut terus elemen vital dalam menjawab situasi umat dan bangsa saat ini, sebab ketuhanan dan kemanusiaan tanpa ilmu pengetahuan ibarat lampu tanpa sumber daya energi.
Dari sinilah kekusutan tersebut terus menjadi potret yang menganga namun hampir terabaikan dalam konsolidasi kader saat ini.
Dinamika keilmuan bukan terserabut sendirinya, namun fatalnya adalah keburaman sejarah dan gampangnya akses informasi membuat kader tak lagi memiliki spirit tentang politik dan islam dalam pentas nasional dan lokal., apalagi di HMI Cabang Ambon yang sangat memiliki relasi historis atas politik integral kini tak terlihat dalam setiap momentum ke momentum.
KEMENANGAN BERSAMA
Menghadapi situasi ini di momentum konferensi ke “XXXIV”, kita menjadikan ide tentang Islam dan ilmu Pengetahuan menjadi suatu kemenangan bersama, agar himpunan ini bisa melahirkan cendekiawan muda dalam menghadapi fenomena abad 21.
Seluruh kader baik yang menjadi calon maupun kader, mari bersama mengurai kembali tentang islam dan ilmu pengetahuan sehingga di himpunan ini kita mengurai ulang tentang islam dan politik umat bagi bangsa dan daerah.
Potret bangsa saat ini, menandakan tergerusnya posisi intelektual muslim dalam memberikan semacam pikiran-pikiran tentang situasi global, nasional, dan daerah merupakan suatu gejala paradox of planting, gejala dimana kita menerima informasi begitu banyak tetapi sulit memverifikasi kebenarannya.
Untuk itu dipandang perlu di era paradox dengan menghitung usia abad dua satu telah melahirkan satu usia kepemimpinan dalam sosiologi disebut dengan GEN-Z.
Maka dipandang perlu untuk kita semua melakukan semacam kontemplasi atas eksistensi Himpunan Mahasiswa Islam, agar kita tidak terlihat disorientasi atas apa yang kita miliki bersama.
BACK TO BASIC
Momentum pengambilan keputusan tertinggi pada level cabang, dalam hemat berpikir saya menjadikan visi “HMI Back TO Basic” adalah kegelisahan kader dengan status sebagai GEN-Z, merindukan semacam kemegahan sejarah himpunan ini yang mana usianya adalah usia antara abad 20 dengan gejolak idiologi, dan abad 21 dengan gejolak minformasi dan segala ketidakpastian.
Dalam konteks demikian sebagai kader dengan memiliki landasan nilai perjuangan saatnya kita memenangkan bersama ide-ide keumatan, kebangsaan, dan keilmuan sehingga wadah ini terus menjadi rumah bagi kita dan bagi umat manusia.
Disadari sungguh bahwa mengurainya seperti mengurai benang kusut, tetapi dengan usia dan distribusi kader di setiap institusi formil maupun non formil, jika solidaritas atas nama keumatan dan kebangsaan dengan landasan nilai yang kita miliki maka semuanya akan memenangkan ide dan nilai sebagaimana mana menjadi ciri khas kader HMI.
Bagi kami, himpunan ini memiliki segudang data dan metode hanya saja di tengah kegilaan zaman, kita tergerus oleh arus ketidakpastian informasi sehingga kita menjadi paradox di tengah kemegahan institusi.
Baca Juga:
Kesejahteraan Tenaga Kerja di Indonesia: https://sentralpolitik.com/kesejahteraan-tenaga-kerja-di-indonesia/
Sudah saatnya kita melakukan radikal break untuk kembali ke khittah dan solidaritas umat dan bangsa. (*)






