AMBON, SentralPolitik.com – Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapratama, Semarang menggandeng Universitas Pattimura (Unpatti) menggelar Focus Grup Discusion (FGD).
Diskusi terkait penelitian berjudul “Peran Teori Komunikasi Massa dan Transformasi Birokrasi Digital Dalam Membangun Tata Kelola Pemerintahan Berbasis Smart City di Kota Ambon”.
Pemkot Ambon lewat Dinas Kominfo dan Persandian sebagai fasilitator Kamis (20/8/26) di Ruang Vlissingen Balai Kota. Dan Kepala Dinas, Ronald H. Lekransy membuka kegiatan sekaligus salah satu keynote speaker.
Lekransy dalam paparannya tentang Ambon Smart City menjelaskan berbagai permasalahan di kota Ambon antara lain kepadatan penduduk yang tinggi.
Selanjutnya pelayanan Kesehatan yang overload, tata ruang yang buruk, persoalan sampah dan kemacetan, hingga integrasi layanan digital antar OPD masih lemah.
Menjawabnya, Pemkot dalam pengembangan Smart City bukan sekadar membangun aplikasi, tapi mewujudkan perubahan tata kelola pemerintahan dengan memanfaatkan teknologi.
“Implementasinya melalui tahapan seleksi, perencanaan, implementasi, evaluasi dan transformasi, dengan prinsip technology, governance, data, people, sustainability,” ujarnya.
Program Ambon Smart City yang telah berlangsung sejak 2017.
Sampai saat ini telah mencakup enam dimensi utama yakni Smart Governance, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living, Smart Society serta Smart Environment.
Pada tahun 2025, Kota Ambon masuk sebagai 10 besar Kota yang mendapat evaluasi secara nasional. Hasilnya, Kota Ambon mendapat nilai 3,6 (skala 4).
“Ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan publik berbasis teknologi,” imbuhnya.
Lekransy berharap Ambon Smart City menjadi model transformasi tata kelola pemerintahan berbasis teknologi, data, SDM, pelayanan publik, dan keberlanjutan.
Enam dimensi Smart City menjadi kerangka untuk mengintegrasikan berbagai program OPD sehingga teknologi tidak berhenti pada aplikasi.
‘’Tapi menghasilkan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, aman, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” bebernya.
DATA JADI PENGETAHUAN
Sementara Keynote Speaker lainnya yakni Guru Besar Ilmu Administrasi Publik FISIP Unpatti, Prof. Jusuf Madubun, menjelaskan Smart City dapat merubah data menjadi pengetahuan.
‘’Bukan sekadar kota yang menggunakan teknologi cerdas, tapi kota yang mampu mengubah data menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi keputusan, keputusan menjadi pelayanan, dan pelayanan menjadi kepercayaan publik,’’ katanya.
Menurutnya, tidak cukup membangun Ambon Smart City dengan teknologi, karena itu Transformasi birokrasi digital Kota Ambon, harus memperkuat kapasitas dan budaya birokrasi yang berakar pada nilai dan kearifan loka Ambon dan Maluku.
“Birokrasi digital bukan tujuan akhir, tapi yang dibutuhkan adalah transformasi dari Birokrasi Konvensional ke Digital, dan Terintegrasi, Data-Driven, menuju Kota Cerdas yang Citizen-Centered,” tandasnya.
Sementara, Ketua Tim Peneliti UNIKA Soegijapranata, Andreas Pandiangan mengungkapkan menyangkut penelitian peran teori komunikasi dan transformasi digital.
Penelitian Berbasis Smart City di Kota Ambon yang mendapat dana hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI di tahun 2026.
Baca Juga:
Diskominfo Sandi Gagas Perda Ambon Smart City: https://sentralpolitik.com/diskominfo-sandi-sementara-gagas-perda-ambon-smart-city/
‘’Tujuan penelitian ini untuk menggali dan merumuskan pengembangan teori dan strategi komunikasi massa dan transformasi birokrasi digital sebagai bagian penting Smart City di Kota Ambon,’’ pungkasnya. (*)






