SAUMLAKI, SentralPolitik.com – Pelayanan RSUD dr Magretti di Saumlaki, Ibukota Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) makin parah. Gelap!
Direktur RS itu, dr Felisitas Rante, Sp Rad sudah dua pekan mengundurkan diri, pasca terungkapnya pengadaan obat kadaluarsa di lembaga itu.
Begitupun PPTK Obat, dr Nurlela Latief juga mengundurkan diri dari jabatannya.
Sementara memasuki tiga pekan Pemerintah, KKT masih bungkam. Belum menunjuk pimpinan yang baru.
Sumber-sumber internal Pemkab KKT kepada media ini menjelaskan kalau saat ini dokter dan tenaga medis di RSUD itu bekerja tanpa kepala.
‘’Mereka seperti ayam kehilangan induk. Bekerja saja untuk memenuhi tugas sebagai pegawai, sesuai prosedur yang ada,’’ katanya.
Sumber yang meminta media ini tidak perlu membuka identitasnya ini menegaskan kalau saat SentralPolitik.com membuka penggunaan obat kadaluarsa, menyusul jatuhnya korban, DPRD KKT memanggil penanggung jawab RSUD.
Direktur dr Felisitas Rante dan PPTK Obat, dr Nurlela Latief akhirnya datang menghadap, ikut hearing bersama DPRD. Dan praktik manipulasi dan kerja kotor di RS itu terungkap.
Dewan kemudian mengambil langkah dengan memproses masalah itu dengan dua mekanisme, menyerahkan masalah ini ke kejaksaan atau merekomendasi lewat Inspektorat.
‘’Tapi terjadi voting di DPRD dan Dewan akhirnya menetapkan agar Inspektorat yang menanganinya,’’ katanya.
MUNDUR
Pasca penetapan dewan dr Felisitas Rante kemudian mengajukan pengunduran diri dari jabatan direktur. Dokter Nurlela juga mengambil langkah yang sama.
‘’Dokter Felisitas mundur karena dia memang sementara cedera kaki, sedangkan, dr Nurlela juga mundur. Padahal tidak mundur pun jabatan dia sebagai PPTK pengadaan obat sudah selesai,’’ jelasnya.
Sumber media ini menyebutkan sejak mundur, dokter Feli sudah tidak masuk kantor lagi, sementara dokter Nurlela tetap masuk kantor, bertindak sebagai dokter umum.
Sikap kedua dokter ini menunjukan kalau mereka tidak memiliki tanggung jawab kemanusiaan, dan berusaha lari dari masalah.
‘’Yang ada di otak mereka cuma uang. Ketika masalah, bukannya evaluasi menyeluruh, tapi mundur. Kami kira jaksa harus melihat ini,’’ tandasnya.
GENSET TANPA MINYAK
Sementara itu, sumber lainnya menyebutkan kalau pelayanan di RS itu semakin amburadul.
Ia menggambarkan, satu malam terjadi pemadaman listrik di Rumah Sakit kebanggaan milik Pemda itu. Sementara pasien dan keluarga berjubel di sana.
‘’Karena lampu mati petugas berupaya menghidupkan Genset. Eh ternyata minyak di Genset kosong. Nah, kita hanya bisa pasrah, semua mengeluh. Semua menjerit. Ini menyangkut nyawa orang,’’ kesalnya.
Sumber ini juga sepakat kalau masalah di RSUD itu sudah tidak bisa ditolelir, harus ada langkah evaluasi baik manajemen maupun investigasi hukum.
PEMKAB LELET
Sementara itu, Bupati KKT, RJ terkesan lelet dalam menyikapi persoalan ini.
Mestinya setelah ada pengunduran diri, harus ada pejabat yang bekerja, untuk menyelamatkan kondisi yang ada.
Ia menyebut kalau Bupati sejauh ini terkesan keluyuran ke luar negeri tanpa membawa sesuatu hal yang besar untuk masyarakat.
‘’Kita ikuti saja dia ke China, akan ada apa di KKT. Omong kosong dan pencitraan saja. Urus dulu masalah internal yang amburadul ini baru jalan-jalan ke tanah asal leluhurnya itu,’’ tegasnya.
Sumber ini mengingatkan kalau ke China bukan tutup buka mata semuanya terjadi, sementara warga di Tanimbar hari ini butuh pelayanan maksimal.
Perhatian terhadap pelayanan Kesehatan yang amburadul ini, katanya, sudah menyimpang dari Visi-Misi RJ-JR saat bertarung pada Pilkada kemarin.
Dia mengingatkan dari 7 MISI Pembangunan RC-JR, MISI Pertama adalah memperkuat SDM, Sains, Teknologi, Pendidikan dan Kesehatan.
Sumber ini kembali mengingatkan kalau kunjungan RJ ke RRC itu ada pada visi-misi nomor berapa sehingga ia bernafsu ke sana, dengan kondisi kesehatan warga memprihatinkan.
‘’Nah, kita lihat hari ini kesehatan parah. Kami usulkan sebaiknya wakil bupati menjabat Direktur RSUD saja, kalau tidak mampu sebaiknya RJ jadi direktur, sekalian bisa buka toko obat,’’ kecamnya. (*)






