Uncategorized

“Syawal dalam Bisikan Bumi yang Menghangat : Fitrah dan Amanah yang Diuji”

×

“Syawal dalam Bisikan Bumi yang Menghangat : Fitrah dan Amanah yang Diuji”

Sebarkan artikel ini

Oleh : Arif Sumantri*)

Syawal
Syawal dalam Bisikan Bumi yang Menghangat : Fitrah dan Amanah yang Diuji. f:IST-

Takbir berkumandang, menggema dari menara-menara masjid hingga ke sudut-sudut desa yang sederhana. Di pagi Syawal 1447 Hijriah itu, langit seakan ikut bersaksi atas perjalanan panjang manusia menapaki Ramadhan. Ada yang pulang dengan mata yang basah, ada yang pulang dengan hati yang lapang, dan ada pula yang pulang dengan doa-doa yang belum sempat terucap.
—-
Mudik bukan sekadar perpindahan manusia dari kota ke kampung halaman. Ia adalah arus batin yang mengalir menuju sumber kasih sayang. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan, rest area menjadi lautan manusia, dan pelukan hangat di pintu rumah menjadi puncak dari perjalanan rindu.

Dalam setiap langkah pulang itu, tersimpan harapan: kembali kepada fitrah kepada diri yang lebih jujur, lebih bersih, dan lebih bertanggung jawab. Namun di balik suka cita itu, alam sedang berbisik pelan bahkan cenderung mengingatkan. bumi sedang berbisik dengan bahasa yang lain, bahasa panas, bahasa kering, bahasa peringatan.

Iklan

Pada Syawal 1447 Hijriah ini, kemenangan tidak hanya dirayakan dengan gema takbir, tetapi juga dengan kewaspadaan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau 2026 akan datang lebih awal di hampir separuh wilayah Indonesia, dengan 46,5% zona musim mengalami percepatan awal kemarau. Tetapi juga lebih panjang dan lebih kering, sekitar 64,5% wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal, sementara puncak kemarau terjadi pada Agustus 2026 di lebih dari 61% wilayah . Langit yang cerah ternyata membawa pesan yang berat.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari dinamika global: berakhirnya fase La Niña dan potensi munculnya El Niño yang dikenal sebagai penggerak utama anomali iklim dunia.
Peralihan ini membuat suhu meningkat, hujan berkurang, dan bumi perlahan kehilangan keseimbangan alaminya. Seolah-olah alam sedang menguji : apakah manusia yang kembali fitrah juga kembali peduli ?

Secara klimatologis, Indonesia berada dalam pengaruh dua sistem besar: El Niño dan La Niña. Ketika El Niño menguat, curah hujan menurun drastis, suhu meningkat, dan kekeringan meluas. Sebaliknya, La Niña membawa hujan berlebih. Namun dalam beberapa tahun terakhir, anomali iklim global menunjukkan ketidakpastian yang semakin tinggi akibat perubahan iklim.

SUHU GLOBAL MENINGKAT

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menegaskan bahwa suhu global telah meningkat sekitar 1,1°C dibandingkan era pra-industri, dan Asia Tenggara termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap gelombang panas, kekeringan, dan perubahan pola hujan.

Dengan kata lain, Syawal tahun ini tidak hanya membawa kemenangan spiritual, tetapi juga mengantar manusia memasuki ujian ekologis yang nyata.

Mudik adalah perjalanan rindu. Tetapi dalam perspektif kesehatan lingkungan, ia juga perjalanan ekologis. Jutaan manusia bergerak pulang, membawa suka cita namun tanpa sadar juga membawa beban bagi bumi.

Dalam perjalanan itu: Udara di jalur padat dapat dipenuhi PM2.5 yang meningkat hingga jauh di atas standar WHO, bahkan dalam kondisi ekstrem bisa melampaui puluhan kali batas aman, Rest Area berubah menjadi “kota sementara” dengan lonjakan sampah plastik, Sanitasi publik bekerja melampaui kapasitas, Pangan jalanan berisiko terkontaminasi, Vektor penyakit berkembang di lingkungan padat dan lembab.

Di sinilah makna fitrah diuji kembali: apakah kebersihan yang kita jaga selama Ramadhan berhenti di sajadah, atau berlanjut ke bumi yang kita pijak?

Musim panas yang datang lebih awal akan memicu berbagai dinamika lingkungan yang saling terhubung dalam satu kesatuan sistem kehidupan.

Air: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Sumber Krisis ; Beberapa wilayah di Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur, sebagian Jawa Tengah, dan wilayah selatan Jawa Barat berpotensi mengalami defisit air bersih.

Kekeringan akan memperbesar ketergantungan pada sumber air yang tidak terlindungi, meningkatkan risiko kontaminasi mikrobiologis.

ANCAMAN SERIUS

Dalam konteks sanitasi, kondisi ini dapat memicu meningkatnya praktik open defecation (ODF) kembali, terutama di wilayah yang akses airnya terbatas. Hal ini menjadi ancaman serius terhadap target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-6: Air Bersih dan Sanitasi Layak.

Udara: Panas, Polusi, dan Ancaman Tak Kasatmata ; Kemarau panjang meningkatkan konsentrasi polutan udara, terutama PM2.5, akibat : emisi kendaraan, pembakaran terbuka, kebakaran hutan dan lahan.

Paparan PM2.5 yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit pernapasan, kardiovaskular, hingga kematian dini. Dalam kondisi suhu tinggi, reaksi kimia di atmosfer juga mempercepat pembentukan polutan sekunder.

Tanah: Retak yang Diam-diam Mengkhawatirkan ; Tanah yang kehilangan kelembaban akan mengalami penurunan produktivitas.

Di sektor pertanian, kondisi ini berdampak pada: penurunan hasil panen, gangguan ketahanan pangan, peningkatan harga bahan pokok. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali memperparah kondisi ini, menjadikan tanah kehilangan daya dukung ekologisnya.

Vektor Penyakit: Adaptasi dalam Ketidakseimbangan ; Perubahan suhu dan kelembaban akan mempengaruhi dinamika vektor penyakit seperti nyamuk.

Dalam beberapa kasus, suhu tinggi justru mempercepat siklus hidup vektor tertentu, meningkatkan potensi penularan penyakit seperti dengue.

Pangan: Risiko yang Tak Selalu Terlihat ; Suhu panas mempercepat pembusukan makanan dan meningkatkan risiko kontaminasi mikroorganisme patogen.

Dalam kondisi sanitasi yang kurang baik, potensi keracunan pangan meningkat signifikan, terutama pada kegiatan perjalanan dan konsumsi makanan di luar rumah.

UJIAN

Menghadapi musim panas ekstrem bukan sekadar persoalan teknis, tetapi ujian kepemimpinan dan kesadaran kolektif pada pemerintah, masyarakat dan lintas sektor ;

Pemerintah dan Kebijakan ; Penguatan sistem peringatan dini iklim berbasis data BMKG, Pengamanan sumber air dan distribusi air bersih, Pengendalian kebakaran hutan dan lahan, Integrasi kebijakan kesehatan lingkungan dalam pembangunan daerah.

Pemerintah Daerah ; Optimalisasi layanan sanitasi dan air bersih, Edukasi masyarakat tentang adaptasi perubahan iklim, Penguatan sistem pengelolaan sampah dan limbah.

Masyarakat ; Hemat air sebagai bentuk ibadah ekologis, Tidak membakar sampah, Menjaga kebersihan lingkungan dan mengupayakan hygiene sanitasi sebagai upaya prilaku hidup bersih dan sehat secara berkelanjutan.

Akademisi dan Dunia Usaha ; Inovasi teknologi air bersih, Pengembangan ekonomi sirkular, Investasi pada solusi ramah lingkungan.

Kini, ketika gema takbir mulai mereda dan perjalanan mudik telah usai, manusia kembali pada rutinitasnya.

Namun sesungguhnya, ujian yang lebih besar baru saja dimulai. Ramadhan telah melatih kesabaran, Syawal menguji keistiqomahan. Apakah nilai-nilai itu akan bertahan? Ataukah ia akan larut bersama waktu?

Di tengah panas yang kian meninggi, di tengah bumi yang perlahan memberi tanda, manusia diajak untuk bermuhasabah.

Bahwa menjadi insan yang bertakwa bukan hanya tentang ibadah yang terlihat, tetapi juga tentang bagaimana ia memperlakukan bumi yang dipijaknya. Bahwa menjaga air, udara, dan tanah bukan sekadar kewajiban ekologis melainkan kesaksian iman.

Dan jika suatu hari nanti kita berdiri di hadapan-Nya, mungkin bukan hanya tentang seberapa banyak doa yang kita panjatkan yang akan ditanya, tetapi juga: seberapa baik kita menjaga bumi yang telah dipercayakan.

Maka biarlah Syawal ini menjadi titik pulang yang sesungguhnya, pulang kepada fitrah, pulang kepada kesadaran, dan pulang kepada janji untuk menjaga kehidupan.

Baca Juga:

Mengembalikan HMI ke Garis Perjuangan Keumatan Kebangsaan dan Keilmuan: https://sentralpolitik.com/mengembalikan-hmi-ke-garis-perjuangan-keumatan-kebangsaan-dan-keilmuan/

Karena pada akhirnya, bukan suhu panas yang menguji manusia, melainkan kesediaannya untuk berubah dan di situlah air mata menemukan maknanya. (*)
—–
*) Ketua Umum PP HAKLI (himpunan ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)/Guru Besar Kesehatan Lingkungan UIN Jakarta//Ketua Komite Ahli PMKL (penanganan masalah Kesehatan lingkungan) Kementerian Kesehatan.

Baca berita menarik lainnya dari SentralPolitik.com di Channel Telegram