SAUMLAKI, SentralPolitik.com – Proses ground breaking PSN Blok Masela akhirnya berlangsung di Desa Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT).
Momen bersejarah ini langsung mendapat sorotan dari Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
‘’Bagi ISKA, proyek raksasa ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal iman dan tanggung jawab merawat ciptaan,’’ kata Ketua ISKA KKT, Kornelis Waturu dalam pernyataan, Kamis (16/7/2026).
Ia menegaskan bahwa setiap pembangunan besar harus berangkat dari semangat keadilan, keberpihakan kepada rakyat kecil, dan kepedulian terhadap lingkungan.
‘’Merawat bumi adalah bagian dari iman kami (Laudato Si / LS 217). Allah menitipkan laut, hutan, dan tanah ini bukan untuk dirusak, tapi untuk dijaga dan diwariskan,” ujarnya saat menghadiri ground breaking.
Bagi mantan Ketua Pemuda Katolik Komcab KKT itu, Gereja Katolik melihat lingkungan bukan sebagai “barang” yang bisa dipakai seenaknya, tapi sebagai ciptaan Tuhan yang harus dirawat.
‘’Artinya, manusia diberi kuasa atas alam, tapi juga diberi tanggung jawab. Kita ini Penatalayan, bukan ‘Pemilik,’’ ingatnya.
CATATAN KRITIS
ISKA KKT menyambut baik ground breaking Blok Masela sebagai langkah awal kemandirian energi nasional.
Ia berharap Proyek ini menjadi pengungkit ekonomi baru, membuka lapangan kerja, dan mengangkat kesejahteraan masyarakat di KKT dan Maluku secara umum.
Namun, ISKA juga menitipkan beberapa catatan penting agar proyek ini tidak mengulang kesalahan proyek migas sebelumnya di tempat lain.
Pertama, soal keadilan ekonomi. ISKA mendesak Inpex dan pemerintah memberi prioritas utama kepada vendor lokal, UMKM, koperasi, dan tenaga kerja asal KKT.
“Kami tidak mau hanya jadi penonton di tanah sendiri. Groundbreaking ini harus diikuti dengan kontrak nyata untuk anak-anak Tanimbar dan Maluku,” tegasnya.
Kedua, soal lingkungan. Kawasan Blok Masela berbatasan langsung dengan laut dan ekosistem pesisir yang menjadi sumber hidup nelayan.
ISKA meminta ada pengawasan ketat, AMDAL yang transparan, dan mekanisme ganti rugi yang adil jika terjadi dampak.
“Laut itu altar kehidupan bagi umat kami. Mencemari laut sama dengan mengkhianati titipan Tuhan,” katanya.
Ketiga, soal keberlanjutan. ISKA mendorong agar sebagian keuntungan Blok Masela dikembalikan dalam bentuk pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat adat. Dana CSR tidak boleh hanya sebatas seremonial.
IMAN YANG BEKERJA
Bagi ISKA, iman Katolik mengajarkan prinsip integral ecology seperti dalam Ensiklik Laudato Si. Artinya pembangunan harus menyatukan relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam (LS 66, 119)
Proyek ini boleh jalan, investasi boleh masuk. Tapi tolok ukurnya bukan hanya barrel dan dolar.
‘’Tolok ukurnya adalah; apakah ibu-ibu nelayan jadi lebih sejahtera? Apakah anak-anak kami punya sekolah yang lebih baik? Apakah hutan dan laut kami tetap lestari?” ingatnya.
ISKA KKT menyatakan siap menjadi mitra kritis. Mereka akan terus mengawal, memberi masukan, dan menjadi jembatan antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat akar rumput.
Tugas kita bukan mengeksploitasi sampai habis, tapi mewariskan bumi yang lebih baik ke anak cucu.
Lantaran itu ia berharap groundbreaking menjadi awal dari babak baru. Dan bagi ISKA KKT, babak baru itu harus ditulis dengan tinta keadilan dan tinta kepedulian pada bumi Duan Lolat untuk Pro Bono Publico.
Baca Juga:
Tanimbar Siap Sambut Kunjungan Presiden di Ground Breaking Blok Masela: https://sentralpolitik.com/tanimbar-siap-sambut-kunjungan-presiden-di-groundbreaking-blok-masela/
‘’Kami berdoa agar Blok Masela menjadi berkat, bukan kutuk. Menjadi jalan keluar dari kemiskinan, bukan pintu masuk ketimpangan baru,” tutupnya. (*)






