OPINI

Pengembangan Kawasan Geothermal Tourism Berkelanjutan di Maluku Tengah (1) 

×

Pengembangan Kawasan Geothermal Tourism Berkelanjutan di Maluku Tengah (1) 

Sebarkan artikel ini

”Kawasan Geothermal Hatuasa Negeri Tulehu”

Oleh: Akbar Abdullah Ohorella, S.T. M.P.WK

PROVINSI Maluku sebagai wilayah kepulauan semakin menarik perhatian wisatawan global berkat keindahan alamnya yang masih alami, sejarahnya yang kaya, serta budayanya yang unik.

Wisata bahari menjadi daya tarik utama, dengan pantai-pantai berpasir putih seperti Pantai Ora dan gugusan pulau di Kepulauan Kei yang menawarkan pengalaman menyelam kelas dunia.

Keanekaragaman hayati bawah lautnya, termasuk terumbu karang yang masih terjaga, menarik minat para penyelam dan pencinta ekowisata dari berbagai belahan dunia.

Selain itu wisata budaya juga menjadi daya tarik tersendiri dengan tradisi Pela-Gandong dan musik tradisional Totobuang yang memberikan pengalaman otentik bagi wisatawan.

Sejarah Maluku sebagai “Kepulauan Rempah” turut mengundang wisatawan yang ingin menelusuri jejak perdagangan rempah dunia, mengunjungi benteng-benteng peninggalan kolonial, serta mencicipi kuliner khas berbasis rempah-rempah lokal.

Tidak hanya itu, potensi pariwisata berbasis energi terbarukan, seperti Geothermal Tourism di Maluku Tengah, semakin membuka peluang bagi wisatawan yang mencari pengalaman unik dan berkelanjutan.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran global terhadap wisata berbasis alam dan budaya, Maluku memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi unggulan di kancah internasional.

Sebagai wilayah kepulauan, Kabupaten Maluku Tengah memiliki prospek pengembangan pariwisata di Provinsi Maluku.

Memiliki luas wilayah secara geografis 275.907 Km2, terdiri dari wilayah lautan sebesar 95,80% dan daratan sekitar 4,20% dengan panjang garis pantai 1.256.230 Km. Adapun jumlah penduduk Kabupaten Maluku Tengah sesuai data BPS 2022 adalah sebanyak 423.730 Jiwa.

Namun begitu, besarnya sumber daya kepariwisataan belum dikelola secara optimal. Sehingga perlu mengembangakan pariwisata berkelanjutan sebagai sektor strategis dan core bisnis dimasa depan.

Sesuai arahan pengembangan pariwisata yang termuat pada dokumen RIPARDA menetapkan Kabupaten Maluku Tengah tahun 2017-2026 obyek wisata air panas Hatuasa Negeri Tulehu Kecamatan Salahutu sebagai kawasan strategis wisata III.

Mendukung bertumbuhnya kawasan wisata air panas Hatuasa sesuai arahan Dokumen RTRW Kabupaten Maluku Tengah Tahun 2011-2031 Negeri Tulehu ditetapkan sebagai pusat kegiatan lokal dan ditetapkan wilayah perkotaan.

Salah satu potensi pariwisata di Maluku Tengah yang memiliki prosek untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berkelanjutan.

Secara geografis Negeri Tulehu berada di Pulau Ambon terpaut 25 Km dari Kota Ambon. Dan memiliki bentang alam yang terdiri dari pegunungan, pantai, hutan sagu.

Areal hutan sagu terdapat daya tarik wisata berupa pemandian air panas bumi atau geothermal. Lokasi Geothermal Tourism (wisata permandian air panas bumi) lebih dekat jaraknya dan lebih singkat waktu tempunya dari Kota Ambon, Ibukota Provinsi Maluku.

Kemudahan aksesibilitas ini memicu tingginya pengunjung yang datang ke lokasi Geothermal Tourism atau pengunjung didominasi warga sekitar Kota Ambon.

Geotermal dikelola langsung oleh komunitas masyarakat adat karena berada di dalam kawasan hutan adat Negeri Tulehu. Pengelolaan wisata geotermal menjadi bagian integral dari perlindungan dan pelestarian ekosistem hutan sagu melalui penerapan hukum adat.

luas kawasan hutan adat sesuai data Pemerintah Negeri Tulehu seluas 33 hektar. Kawasan itu telah dilengkapi fasilitas tempat parkir dan restoran

Namun masih minim fasilitas wisata. Kondisi ini kontraks dengan tingginya jumlah pengunjung setiap tahun.

Tingginya pengunjung tanpa strategis perencanaan dan pengembangan objek wisata menjadi tantangan yang dikuatirkan mengganggu keberlanjutan ekosistem hutan adat khususnya lokasi geothermal tourism.

Kawasan objek wisata itu sejak tahun 2017 telah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Proyek strategis nasional yang dikembangkan PT PLN Wilayah Maluku-Maluku Utara dengan kapasitas 60 megawatt.

Tahap awal pengembangan direncanakan menghasilkan 2×10 megawatt. Proyek ini tidak hanya bertujuan menyediakan energi bersih dan stabil bagi Pulau Ambon dan sekitarnya, tetapi juga berpotensi mendorong pembangunan sosial-ekonomi lokal melalui pemanfaatan dana CSR.

Untuk pengembangan ekowisata air panas dan pelestarian kawasan hutan sagu sebagai pembanding PLTP Kamojang di Jawa Barat yang merupakan salah satu PLTP tertua di Indonesia telah berhasil mengintegrasikan teknologi panas bumi dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sekitar melalui program wisata edukatif dan pertanian ramah lingkungan.

Keberhasilan Kamojang menjadi studi kasus yang relevan bagi Tulehu dalam mengembangkan pembangkit listrik yang tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur energi, tetapi juga sebagai katalisator pembangunan berkelanjutan berbasis potensi lokal.

Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan di Indonesia. Pariwisata diyakini mampu menjadi penyumbang devisa terbesar bagi negara dan daerah (Valencia dkk., 2020).

Sektor pariwisata diharapkan mampu mendorong kegiatan industri dan membuka lapangan kerja. Selain itu, melalui sektor pariwisata keberagaman budaya dan keindahan alam di Indonesia dapat diperkenalkan secara luas.

Kekayaan budaya, adat istiadat, serta keindahan alam Indonesia menjadi daya tarik bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Preferensi wisatawan lokal dan mancanegara telah berubah dalam memilih destinasi wisata sebagai lokasi berwisata.

Destinasi wisata yang menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan lebih banyak dipilih dibandingkan dengan yang mengabaikan kelestarian alam, budaya dan ekonomi serta tidak melibatkan komunitas lokal.

Peneliti bidang pariwisata banyak tertarik pada tema pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis komunitas lokal. Namun belum banyak yang tertarik pada preferensi wisatawan terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan di wilayah kepualauan.

Preferensi wisatawan adalah tingkat kesukaan atau pilihan wisatawan terhadap suatu destinasi wisata dibandingkan dengan destinasi yang lain. Menurut Kotler, (2005), preferensi wisatawan dapat didefinisikan sebagai faktor-faktor yang dipertimbangkan berupa atribut, minat, kepercayaan dan kepuasan ketika mengambil keputusan.

Preferensi wisatawan menjadi faktor mempengaruhi minat, motivasi dan keputusan wisatawan untuk memilih destinasi wisata. Memahami preferensi wisatawan merupakan hal penting dalam melakukan perencanaan, pengembangan dan evaluasi pengembangan destinasi wisata.

Secara umum penelitian preferensi wisatawan telah banyak dikaji dalam berbagai bidang ilmu, tetapi masih minim kajian yang fokus membahas pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan lokus studi pada wilayah pulau.

Studi ini tertarik mengulas pengembangan pariwisata berkelanjutan di wilayah pulau berbasis preferensi wisatawan lokal untuk mengisi kekosongan kajian pariwisata yang berkembang selama ini. Penelitian ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia khususnya Provinsi Maluku yang tersebar pada gugusan pulau sehingga hasilnya diharapkan memiliki kontribusi besar dalam pengembangan dan pembangunan pariwisata di wilayah kepulauan.

Dengan demikian, pengembangan kawasan geothermal tourism yang berkelanjutan harus dirancang dengan mempertimbangkan preferensi wisatawan melalui pendekatan komprehensif melalui empat komponen utama destinasi atau yang dikenal sebagai 4A menurut Cooper et al. (2008).

Yakni atraksi, fasilitas, aksesibilitas, dan pelayanan tambahan. Atraksi berupa fenomena alam seperti pemandian air panas, aktivitas vulkanik, dan bentang alam geotermal perlu dikemas secara edukatif dan menarik.

Fasilitas penunjang seperti penginapan ramah lingkungan, pusat informasi wisata, dan area istirahat harus tersedia dengan kualitas memadai. Aksesibilitas juga menjadi kunci, sehingga dibutuhkan infrastruktur jalan dan transportasi umum yang mendukung kemudahan kunjungan.

Sementara itu, pelayanan tambahan seperti pemandu wisata, layanan medis, dan pusat kuliner lokal dapat meningkatkan kenyamanan dan kepuasan pengunjung.

Baca Juga:

Harmoni Maluku Merajut Perdamaian dan Mencegah Konflik dengan Kearifan Lokal; https://sentralpolitik.com/harmoni-maluku-merajut-perdamaian-dan-mencegah-konflik-dengan-kearifan-lokal/

Keempat komponen itu harus diperkuat secara terpadu dengan melibatkan masyarakat lokal, pengembangan geothermal tourism dapat memberikan manfaat ekonomi, edukasi, serta pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (*)

Baca berita menarik lainnya dari SentralPolitik.com di Channel Telegram