Banner Iklan

Banner Iklan
Sentral Sepekan

Perang Belum Selesai Jenderal..! 

×

Perang Belum Selesai Jenderal..! 

Sebarkan artikel ini

Bantaran Waitomu tepatnya di lintasan muara sungai saat ini terlihat sunyi. Tidak ada gerakan pekerjaan. Semuanya berserakan seperti usai pertempuran… Tapi, perang belum selesai!

—

Air sungai Waitomu di pusat Kota Ambon tetap mengalir sedari dulu. Debutnya sedari pulau Ambon berada, tapi debitnya semakin berkurang seiring aktivitas manusia.

Sungai ini terus mengalir dalam sunyi seakan mengiringi denyut kehidupan warga kota.

Jangan ditanya berapa sampah yang sudah masuk ke dalam sungai sampai ke laut, berapa banyak endapan yang ada disana.

Jangan dihitung berapa ikan yang hidup di kali itu, atau berapa banyak penduduk yang hidup darinya, atau pula berapa yang sudah ‘mati’ di Wai itu. Menghitung ‘mati’ dalam arti terdampak dari Waitomu.

Oiya, lepas dari insiden Wai Tomu, sebetulnya Kota Ambon ini cukup diberkati.

Mari dihitung, dengan luasan yang kecil, ada 5 sungai yang melintas di pusat kota ini. Sungai Air Besar (Arbes), Wai Batu Merah, Wai Batu Gantung, Wai Batu Gajah dan Wai Tomi. Empat Wai di Sirimau dan satu di Kecamatan Nusaniwe.

Air sebagai sumber hidup yang melimpah sebetulnya anugerah bagi kota ini. Tapi ingat, sebuah anugerah bila tidak dikelola dengan baik, tentu akan berubah menjadi musibah.

Dan, (antara lain) dengan alasan itulah, Mayjen TNI Dody Triwinarto, Pangdam XV/ Pattimura mengambil langkah; Penataan!

Lepas dari polemik yang mencuat, sebetulnya langkah Jenderal Dody bisa dinilai sebagai langkah dengan alasan “keresahan” atas carut-marut di kota Ini.

Apalagi kondisi ini terjadi di depan mata, di ujung hidungnya.

Melepas lelah di kediaman yang aman, setiap hari, dia akan mendapati kondisi denyut nadi kehidupan masyarakat di depan matanya saat pergi ke Kantor, Markas Kodam XV/ Pattimura yang “sialnya” ada di Mardika.

M A R D I K A

Di Mardika itu ada pasar, ada toko, terminal, rumah karaoke, ada pedagang kecil sampai besar. Ada pelabuhan; kapal sampai perahu kecil. Ada pula Ruko sampai Kantor Bank.

Ada pedagang sekecil menjajal daun kemangi, kantong kresek sampai pedagang besar menampung hasil bumi, sampai tempat persembunyian berkilo-kilo Mercury.

Ada pengecer koran, banyak pencopet kecil sampai ‘kantor berjalan’ dengan antri panjang mencari nafkah.

Kok kantor? Ya Iyalah, bila kita sepakat kalau seorang supir memiliki ‘kantor’ di dalam oto penumpang, bisa dibayangkan bagaimana setiap hari seorang supir berjubel di Mardika…

Bukankah Konflik Maluku itu sengaja dipicu di Mardika, oleh para sopir yang terlibat aksi kriminal…

Semua sudah tau bagaimana setiap hari Mardika itu berdenyut. Tidak ada malam di Mardika, semuanya siang dimana aktifitas berjalan konstan.

PENATAAN!

Karena itu langkah “Penataan” oleh Jenderal Dody patut diapresiasi. Seorang jenderal tentu akan terus memoles bintang di pundak. Dan ini, tidak mungkin berlama-lama bertugas di Ambon-Maluku.

Karena itu, dengan keresahan dan langkah konkritnya atas kondisi di Mardika patut kita apresiasi; lepas dari dampak, kewenangan, UU atau regulasi lain atas sungai dan kota.

Langkah penataan itu sebetulnya patut menjadi pertanyaan, apa yang sudah atau sedang dibuat oleh instansi lain menyikapi masalah sungai dan masalah lain di Mardika.

PENGHENTIAN SEMENTARA

Noh, penghentian pada pekerjaan di Sungai Waitomu oleh Mayjen Dody bukan berarti seluruh persoalan telah selesai.

Justru di sinilah babak berikutnya dimulai.

Kita mesti membaca penghentian itu menjadi ruang bagi evaluasi dan perlindungan kepentingan masyarakat.

Pada titik ini publik juga harus membaca bahwa pertempuran melawan ketidakpedulian sudah dimulai. Dan publik tentu tidak kehilangan jawaban atas pertanyaan.

Sebab, menghentikan pekerjaan hanyalah satu langkah. Memastikan sungai ditangani secara benar, risiko bencana dikendalikan, dan masyarakat terlindungi adalah perjuangan yang sesungguhnya.

Toh, apresiasi kepada Jenderal Dody juga bukan berarti perjuangan harus berhenti, apalagi pertanyaan publik juga berhenti di titik itu.

Sebab, menghentikan pekerjaan hanyalah satu langkah. Memastikan sungai ditangani secara benar, risiko bencana dikendalikan, dan masyarakat terlindungi adalah perjuangan yang sesungguhnya.

Dan ini, kembali lepas dari UU, kewenangan atau regulasi, masyarakat tentu memberi apresiasi moral kepada Jenderal Dody sebagai pemimpin yang bersedia mengambil langkah korektif. Dan peduli kepada rakyat kecil…

Baca Juga:

Pangdam Pattimura Hentikan Sementara Pembangunan di Sungai Waitomu, Tunggu Selesai Perizinan: https://sentralpolitik.com/pangdam-pattimura-hentikan-sementara-pembangunan-di-sungai-waitomu-tunggu-selesai-perizinan/

Peperangan belum selesai Jenderal..! Anda layak menyandang Jenderal Tangguh! Hormate Comandante… ! (*)

Baca Berita Menarik Lainnya! Dapatkan informasi terbaru dari SentralPolitik.com
Channel Telegram ➜