OPINI

Sanggupkah Tanimbar Bertahan di Bawah Bayang-bayang El Niño Kuat?

×

Sanggupkah Tanimbar Bertahan di Bawah Bayang-bayang El Niño Kuat?

Sebarkan artikel ini

Oleh Marthin D. Desa *)

Marthin Desa
Marthin Desa, PNS di Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Fenomena El Nino. f:Dok sp.com-

Ancaman bencana klimatologis bukan lagi sekadar spekulasi di belahan timur Indonesia. Baru-baru ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan resmi terkait fenomena El Niño kuat.

Fenomena alam ekstrem yang sering dijuluki “Godzilla El Niño” ini diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027. 

Kabupaten Kepulauan Tanimbar menghadapi risiko besar akibat letak geografisnya yang dikelilingi laut namun minim sumber air tawar. Kondisi sosio geografis tersebut menuntut kesiapsiagaan mutlak dari seluruh lapisan masyarakat di daerah ini.

Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar telah merespons cepat situasi kritis ini melalui pelbagai imbauan resmi. 

Pemimpin daerah menegaskan bahwa peningkatan kewaspadaan dini merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar. 

Menghadapi anomali iklim berskala makro memerlukan transformasi pola pikir dari reaktif pascabencana menjadi mitigatif prediktif. 

Pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat bersatu padu menyusun strategi pertahanan sebelum dampak buruk melumpuhkan sendi-sendi kehidupan. Kesiapan kolektif menjadi penentu utama keselamatan daerah.

ANATOMI ANCAMAN GODZILLA EL NINO

Julukan “Godzilla” merefleksikan daya rusak masif akibat tingginya anomali suhu muka laut yang memicu kemarau panjang ekstrem. 

Kawasan Indonesia Timur—termasuk Tanimbar—dalam pelbagai pemberitaan di media, diprediksi mengalami empat dampak simultan yang sangat merusak tatanan sosial ekonomi. 

Dampak laten tersebut meliputi kekeringan ekstrem, krisis air bersih, kelumpuhan produktivitas pertanian, serta lonjakan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Penurunan curah hujan secara drastis akan mempercepat penyusutan cadangan air tanah permukaan. Intrusi air laut juga mengancam sumur-sumur penyedia air minum utama warga akibat penurunan tekanan hidrolis air tawar di bawah pulau.

Kondisi geografis Tanimbar sebagai wilayah kepulauan kecil melipatgandakan kerentanan ekologis tersebut secara signifikan. 

Sumber air baku masyarakat selama ini sangat bergantung pada curah hujan musiman serta kawasan tangkapan air yang terbatas. 

Pemanasan suhu pasifik yang ekstrem akan mempercepat laju fenomena ini, sehingga embung serta tumpuan mata air mengalami kekosongan total sebelum siklusnya. 

Fenomena kelangkaan air baku ini berpotensi memicu eskalasi konflik sosial antarwarga jika pengelolaannya tidak diatur sejak dini. 

Pemerintah daerah menghadapi tantangan besar untuk menjamin pemenuhan hak dasar atas air bersih bagi seluruh warga Tanimbar.

Sektor pertanian yang menjadi urat nadi perekonomian lokal berada di ambang kelumpuhan total akibat ketiadaan irigasi teknis. 

Kegagalan panen massal mengancam komoditas pangan utama yang menjadi sumber penghidupan serta pemenuhan gizi masyarakat. 

Tanaman hortikultura serta perkebunan rakyat akan mengalami dehidrasi permanen akibat hilangnya kelembaban tanah penopang akar. Kerugian finansial

berskala besar mengintai para petani lokal, yang berujung pada penurunan daya beli masyarakat secara makro. 

Kelangkaan pasokan komoditas segar di pasar domestik dipastikan memicu inflasi harga barang kebutuhan pokok secara tidak terkendali.

Faktor cuaca kering ekstrem berpadu dengan kelalaian manusia berpotensi memicu kebakaran vegetasi skala besar. Humus kering serta guguran daun di lantai hutan bertindak bagai bahan bakar potensial yang siap tersulut percikan api sekecil apa pun. 

Kebakaran lahan tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga menghancurkan aset perkebunan produktif milik warga. Asap tebal akibat karhutla mengancam kesehatan publik melalui lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). 

Transportasi udara menuju Saumlaki juga berisiko lumpuh total akibat penurunan jarak pandang penerbangan yang ekstrem.

Kewaspadaan dini harus segera diwujudkan dalam bentuk regulasi lokal yang membatasi pembukaan lahan melalui metode pembakaran. 

Pemerintah daerah perlu menjatuhkan sanksi hukum yang tegas bagi korporasi maupun individu yang terbukti melakukan pembakaran liar. 

Penghematan air bersih harus dipraktikkan secara ketat pada level rumah tangga guna memperpanjang daya dukung lingkungan. 

Pembuatan sumur resapan serta penampungan air hujan mandiri harus digerakkan secara masif di setiap permukiman warga. Langkah antisipasi yang taktis serta terukur menjadi kunci utama pertahanan daerah melewati masa kritis ini.
REVITALISASI KETAHANAN PANGAN LOKAL

Ketergantungan tinggi terhadap pasokan komoditas pangan luar daerah menjadi titik lemah krusial bagi Tanimbar. Gangguan jalur logistik laut akibat gelombang tinggi dapat seketika memicu kelangkaan bahan pokok di pasar domestik. 

Cuaca buruk ekstrem kerap kali mengisolasi pulau-pulau kecil di Tanimbar dari distribusi pangan utama. 

Upaya peningkatan ketahanan pangan berbasis potensi lokal mendesak untuk diimplementasikan melalui kebijakan strategis yang terukur. Pembangunan serta penguatan kembali lumbung-lumbung pangan lokal menjadi solusi paling rasional untuk mengantisipasi krisis. 

Langkah taktis ini mengandalkan potensi agraris internal guna memutus rantai ketergantungan pasokan eksternal yang rentan.

Terkait dengan itu, Tnyafar dan Arin perlu dihidupkan kembali sebagai pusat perkuatan logistik pangan lokal. 

Baik Tnyafar maupun Arin, keduanya memiliki akar kultural yang sangat kuat di masyarakat. Konsep Tnyafar (permukiman kebun tradisional) dan Arin (sistem gotong royong pertanian komunal) memiliki nilai strategis dalam sistem ketahanan hidup warga. 

Kawasan-kawasan tersebut berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir logistik pangan masyarakat Tanimbar saat situasi darurat terjadi. 

Revitalisasi institusi lokal ini mentransformasikan kebun tradisional menjadi basis produksi pangan sekunder yang mandiri. 

Hak kelola ulayat atas tanah Arin memberikan kepastian hukum bagi komunitas adat untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan tanpa hambatan birokrasi. Bersatunya sistem sosial ini menciptakan ekosistem swasembada tingkat desa yang sangat solid.

Integrasi teknologi penyimpanan pascapanen tepat guna diperlukan agar hasil bumi mampu bertahan lama tanpa mengalami pembusukan. 

Kerusakan komoditas pertanian akibat hama dan kelembapan tinggi sering menjadi kendala utama pertanian tradisional Tanimbar. 

Penerapan metode pengeringan modern serta lumbung kedap udara akan menjaga kualitas nutrisi umbi-umbian serta biji-bijian. Pendekatan ini memastikan cadangan pangan darurat tetap layak konsumsi selama berbulan-bulan sepanjang puncak kemarau ekstrim melanda. 

Pemerintah daerah dapat memfasilitasi pengadaan infrastruktur pascapanen ini melalui alokasi dana stimulus bagi para petani lokal.

Diversifikasi konsumsi melingkupi pembudidayaan umbi-umbian lokal, jagung, serta padi ladang yang terbukti adaptif terhadap iklim kering harus digalakkan kembali secara masif. 

Ketergantungan masyarakat modern terhadap beras perlu dikurangi melalui edukasi diversifikasi pangan berbasis pangan non beras. Komoditas lokal seperti keladi, ubi kayu, hingga ubi jalar, memiliki ketahanan alami yang tinggi terhadap cekaman kekeringan ekstrim. 

Jenis tanaman pangan ini mampu tumbuh optimal pada kondisi tanah kering dengan pasokan air minimal. Penanaman serentak tanaman tangguh iklim ini di area Tnyafar akan menjadi jaring pengaman utama saat sektor pertanian basah mengalami kelumpuhan total.

EPILOG

Penanganan krisis multidimensi hingga awal tahun 2027, dan berpotensi terus berlanjut setelahnya, membutuhkan komitmen anggaran serta mobilisasi sumber daya manusia secara khusus. 

Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dapat diprioritaskan untuk pembiayaan infrastruktur air dan jaring pengaman sosial. 

Selain itu, nilai-nilai luhur filosofi adat Duan Lolat harus dapat diaktualisasikan sebagai instrumen solidaritas kemanusiaan antar warga selama masa sulit. 

Baca Juga:

80 Tahun RI Merdekakah Kita dari Sampah?: https://sentralpolitik.com/80-tahun-ri-merdekakah-kita-dari-sampah/

Kita tidak kuasa menghentikan siklus global El Niño, namun kita memegang kendali penuh atas manajemen risiko bencana. Keberadaan lumbung-lumbung pangan yang terisi penuh di Tnyafar dan Arin akan menjamin kedaulatan serta keselamatan warga Tanimbar. (*)

—–

*) PNS di Pemkab Kepulauan Tanimbar

Baca berita menarik lainnya dari SentralPolitik.com di Channel Telegram