OPINI

“Syawal : Kembali ke Fitrah, Amanah Menjaga Bumi”

×

“Syawal : Kembali ke Fitrah, Amanah Menjaga Bumi”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Arif Sumantri *)

Ramadhan
Animasi foto Ramadhan. Kembali ke Fitrah, Amanah Menjaga Bumi. f:IST-
Iklan

Takbir berkumandang dari menara-menara masjid, menyusup lembut ke relung hati manusia yang baru saja menyelesaikan perjalanan panjang Ramadhan.

—-

Iklan

Pada pagi yang suci itu, umat Islam menyambut Ied Fitri, 1 Syawal 1447 Hijriah hari kemenangan yang tidak sekadar menandai berakhirnya puasa, tetapi menjadi wisuda spiritual bagi jiwa yang ditempa selama sebulan penuh dalam madrasah kesabaran.

Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Ia adalah proses penyucian jiwa, latihan menata diri, sekaligus pendidikan moral agar manusia kembali pada fitrah kemanusiaannya.

Dalam gema takbir, tahmid, dan tahlil yang menggetarkan langit pagi Syawal, tersimpan pesan ilahiah yang agung. Takbir yang bergema dari masjid, rumah, hingga jalan-jalan kota bukan sekadar lantunan pujian. Ia adalah kesaksian batin bahwa manusia telah melalui perjalanan spiritual yang panjang.

Ramadhan adalah madrasah kehidupan dan Idul Fitri adalah wisuda ruhani dari madrasah tersebut. Namun di tengah gema takbir itu, ada satu pertanyaan yang sering kali menyelinap diam-diam dalam hati : Apakah ini Ramadhan terakhir bagi kita?

Setiap tahun, dunia kehilangan sekitar 60 juta manusia. Artinya lebih dari 160 ribu manusia meninggal setiap hari. Banyak di antara mereka tahun lalu masih berpuasa, masih berdiri dalam shalat tarawih, masih menadahkan tangan dalam doa di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Ramadhan mengajarkan satu pelajaran sunyi: kesempatan hidup adalah amanah yang tidak selalu berulang. Jika Allah masih memberi kita umur untuk menyambut Idul Fitri tahun ini, maka kemenangan ini seharusnya tidak berhenti pada ritual tetapi menjelma menjadi karakter kehidupan.

Tujuan puasa dalam satu kalimat yang sangat dalam: “La’allakum tattaquun.” Agar kamu menjadi insan yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183). Namun takwa tidak hanya tercermin dalam hubungan manusia dengan Tuhan.

Takwa juga tercermin dalam hubungan manusia dengan bumi yang dititipkan kepadanya. Manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh, penjaga keseimbangan alam. Relasi manusia dengan alam sering kali retak oleh ketidakpedulian.

KHALIFAH

Manusia diciptakan bukan hanya sebagai penghuni bumi, tetapi sebagai khalifah yang diberi tanggung jawab memelihara keseimbangan alam.

Keseimbangan itu dikenal sebagai ekosentrisme, pandangan bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem yang saling terhubung antara air, tanah, udara, flora, fauna, dan kehidupan sosial. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini terasa semakin relevan ketika kita menyaksikan berbagai fenomena lingkungan hari ini. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa lebih dari 80% bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi ; banjir, longsor, dan kekeringan yang sebagian besar berkaitan dengan degradasi lingkungan, perubahan tata guna lahan, serta rendahnya kesadaran ekologis masyarakat.

Dalam konteks perkotaan, persoalan sederhana seperti sampah sering kali menjadi cermin nyata dari krisis kesadaran tersebut. Kementerian Lingkungan Hidup mencatat bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 68 juta ton sampah per tahun, dan sekitar 40% di antaranya belum terkelola dengan baik.

Survei perilaku lingkungan menunjukkan bahwa indeks kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah masih relatif rendah, sebagian besar rumah tangga belum melakukan pemilahan sampah dari sumbernya.

Sampah yang tidak tertangani kemudian menyumbat drainase, mencemari sungai, dan menjadi pemicu banjir di banyak kota.

Di sinilah fitrah manusia diuji apakah nilai kesucian yang diperoleh selama Ramadhan akan benar-benar membentuk karakter yang amanah terhadap lingkungan.
Selama Ramadhan, ragam kegiatan telah menghiasi dan mempraktikkan berbagai nilai yang selaras dengan prinsip kesehatan lingkungan modern.

Kita belajar menjaga kebersihan, karena “Kebersihan adalah sebagian dari iman.”. Kita juga belajar disiplin, pengendalian diri, serta kesederhanaan dalam konsumsi, yang dalam perspektif ekologi dikenal sebagai gaya hidup yang tidak berlebihan dan tidak merusak keseimbangan alam.

Jika Ramadhan datang kembali tahun depan, apakah kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ini? Atau justru kita kembali kepada kebiasaan lama yang pernah kita tinggalkan selama Ramadhan?

Di penghujung Ramadhan, sering kali air mata jatuh tanpa disadari. Bukan karena kesedihan semata, tetapi karena kesadaran bahwa Ramadhan adalah tamu agung yang mungkin tidak akan kita temui lagi. Setiap Ramadhan adalah kesempatan yang tidak selalu datang dua kali.

Namun jika Allah masih memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan berikutnya, maka seharusnya kita datang sebagai Insan yang lebih baik dari hari ini. Lebih jujur dalam kehidupan.

Lebih peduli terhadap lingkungan. Lebih amanah dalam setiap tanggung jawab. Karena pada akhirnya, kemenangan Idul Fitri bukan sekadar kembali mengenakan pakaian baru atau berkumpul dengan keluarga. Kemenangan sejati adalah ketika nilai-nilai Ramadhan tetap hidup setelah bulan suci itu berlalu.

Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah keadaan jiwa yang bersih dan jujur. Namun fitrah tidak hanya berkaitan dengan dimensi spiritual. Fitrah juga berkaitan dengan keseimbangan hidup antara manusia dan alam.

Kesalehan sejati tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kesalehan ekologis kesadaran untuk menjaga air, tanah, udara, dan kehidupan yang ada di dalamnya.

Setiap tetes air yang digunakan secara bijak, setiap sampah yang dikelola dengan benar, setiap lingkungan yang dijaga kebersihannya, adalah bagian dari ibadah yang sering kali tidak disadari.
Kemenangan Idul Fitri seharusnya melahirkan karakter yang kuat dalam kehidupan.

Salah satu nilai yang dapat menjadi fondasi karakter tersebut adalah IKHLAS, yang dapat dimaknai sebagai akronim nilai-nilai berikut: Integritas dalam menjaga amanah kehidupan, Komitmen untuk terus berbuat kebaikan, Hemat dalam memanfaatkan sumber daya alam, Loyalitas terhadap nilai-nilai kebenaran, Amanah dalam menjalankan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi, Sinergis dalam membangun kehidupan Bersama.

Nilai-nilai ini membentuk pribadi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga mampu menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya.

KEMENANGAN SEJATI

Kemenangan sejati setelah Ramadhan bukan sekadar kegembiraan sesaat. Ia adalah kemampuan untuk istiqomah, menjaga nilai-nilai kebaikan agar terus hidup dalam keseharian.

Istiqomah itu tampak ketika seseorang tidak lagi membuang sampah sembarangan. Ia tampak ketika masyarakat menjaga sungai tetap bersih, menghemat air, serta merawat ruang hidup bersama.

Ia tampak ketika para pemimpin kebijakan berani menata tata kelola lingkungan yang berpihak pada keberlanjutan.

Keseimbangan alam adalah fondasi kesehatan manusia. Ketika hutan rusak, banjir dan longsor menjadi ancaman. Ketika sungai tercemar, penyakit berbasis air meningkat.

Ketika sampah menumpuk, lingkungan berubah menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit. Sebaliknya, ketika manusia hidup selaras dengan alam, maka alam pun menjadi rahmat.

Pada akhirnya, pesan Ied Fitri adalah pesan perbaikan diri. Ia mengajak manusia untuk selalu bertanya pada dirinya sendiri: Jika Ramadhan telah membentuk hati yang lebih lembut, pikiran yang lebih jernih, dan tindakan yang lebih bijak, maka kemenangan itu bukan sekadar symbol melainkan transformasi kehidupan.

Maka setelah gema takbir mereda dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa, semoga nilai Ramadhan tetap hidup dalam jiwa kita. Semoga setiap langkah menjadi ibadah. Semoga setiap tindakan menjadi amal.

Dan semoga setiap tarikan napas menjadi pengingat bahwa bumi ini adalah amanah yang harus kita jaga bersama.

Baca Juga:

Bahaya Asbes Terhadap Penyakit Paru-Paru dan Peran Tenaga Sanitasi Lingkungan di Masyarakat: https://sentralpolitik.com/bahaya-asbes-terhadap-penyakit-paru-paru-dan-peran-tenaga-sanitasi-lingkungan-di-masyarakat/

Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukan hanya kembali kepada fitrah manusia, tetapi juga mengembalikan harmoni antara manusia dan alam agar bumi tetap menjadi rumah yang layak bagi generasi yang akan datang. (*)

*) Ketua Umum PP HAKLI (himpunan ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)/Guru Besar Kesehatan Lingkungan UIN Jakarta//Ketua Komite Ahli PMKL (penanganan masalah Kesehatan lingkungan) Kementerian Kesehatan.

Baca berita menarik lainnya dari SentralPolitik.com di Channel Telegram