AMBON, SentralPolitik.com – Empat Calon Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon memaparkan gagasan strategis di Seleksi Terbuka Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama di Hotel Manise Ambon, Selasa (27/4/2026).
Setiap peserta mendapat waktu khusus selama 15 menit untuk memaparkan visi, misi, serta langkah kerja bila menduduki posisi orang nomor satu di lingkungan birokrasi Kota Ambon.
Berbagai ide terobosan, solusi atas persoalan yang ada, serta menyampaikan rencana pengembangan daerah satu per satu di hadapan tim penilai.
STEVEN DOMINGGUS
Sebagai penyaji pertama, Steven Dominggus menekankan bahwa posisi Sekkot saat ini tidak lagi sekadar tugas administrasi, melainkan menjadi penggerak utama pembangunan daerah.
Mengusung tema mewujudkan Ambon yang inklusif, toleran dan berkelanjutan, ia menyampaikan keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada kemampuan membangun kerja sama dengan seluruh pihak.
Baik dari lingkungan pemerintah, dunia usaha maupun masyarakat.
Untuk mengatasi masalah belum tersinkronisasinya data dan program kerja antar instansi, ia menawarkan inovasi berupa sistem informasi terpadu bernama SIMPATI – Sistem Informasi Manajerial Pemerintah Terintegrasi.
Melalui sistem ini, seluruh data pelaksanaan program, capaian kerja hingga kendala di lapangan akan tersaji secara langsung dalam bentuk tampilan data yang dapat diakses kapan saja.
Dominggus berharap hal ini mempercepat proses pengambilan keputusan serta menjadikan seluruh kebijakan berdasar pada data yang akurat.
“Semua informasi terhubung. Tidak ada lagi data yang terputus, sehingga setiap laporan dan keputusan benar-benar berdasar pada fakta yang ada,” ujarnya.
Selain aspek teknologi, ia juga mengusulkan penyederhanaan aturan kerja dan pemangkasan proses birokrasi yang terlalu panjang.
Ia juga menekankan perlunya kebijakan yang bijak dalam mengelola tenaga kerja pemerintah agar tetap berkelanjutan tanpa membebani kondisi keuangan daerah.
APRIES B GASPERSZ
Penyaji kedua, Apries B. Gaspersz menyampaikan makalah yang fokus pada peran strategis Sekda dalam mendukung seluruh program unggulan pimpinan daerah.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan peraturan yang berlaku, Sekda memiliki tugas utama sebagai penghubung sekaligus koordinator utama seluruh instansi pemerintah daerah.
Ada tiga poin utama untuk memajukan kinerja pemerintah, yaitu kualitas perencanaan dan penganggaran, kemampuan SDM serta sistem pengawasan.
Menghadapi keterbatasan dana daerah, Gaspersz menyarankan agar pemerintah lebih cerdas menyusun program kerja.
Salah satu caranya adalah dengan mengedepankan program yang berbiaya ringan namun memberikan dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat.
“Kita harus pandai memilih langkah cepat yang hasilnya nyata, meskipun dengan sumber daya yang terbatas,” katanya.
Gaspersz menekankan reformasi birokrasi tidak hanya bicara soal sistem kerja, tetapi juga menyangkut kualitas manusia yang menjalankannya.
Ia mengusulkan adanya sistem penghargaan dan sanksi yang tegas serta peningkatan kemampuan aparatur melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.
Selain itu, ia mendorong peran aktif masyarakat dan perguruan tinggi dalam proses pengambilan keputusan sebagai bentuk keterbukaan dan pertanggungjawaban.
ROBBY SAPULETTE
Calon ketiga, Robby Sapulette membawa pembahasan lebih mendalam terkait kondisi keuangan daerah.
Baginya meskipun defisit anggaran mengalami penurunan, hal tersebut bukan berarti kondisi keuangan daerah sudah sepenuhnya kuat.
Sebaliknya, ia melihatnya sebagai pertanda ruang gerak pembiayaan pembangunan semakin terbatas.
Untuk mengatasinya, ia menawarkan solusi pembiayaan melalui kerja sama dengan pihak swasta. Menurutnya, pola kemitraan ini menjadi jalan keluar agar pembangunan tetap berjalan tanpa membebani kas daerah.
Namun demikian, ia mengingatkan agar kerja sama tersebut disusun dengan perencanaan matang, aturan yang jelas dan sistem pengawasan yang ketat.
“Kerja sama ini tidak boleh secara asal-asalan. Harus ada perhitungan yang tepat agar tidak justru menimbulkan masalah baru di masa mendatang,” tegasnya.
Ia juga menyoroti struktur anggaran yang saat ini sebagian besar masih untuk biaya operasional, sedangkan alokasi untuk program pembangunan masih terbatas.
Lantaran itu ia mendorong efisiensi anggaran yang tetap mempertimbangkan dampak sosial, terutama bagi kesejahteraan tenaga kerja pemerintah.
Selain itu, Sapulette mengusulkan percepatan pengoperasian Mal Pelayanan Publik sebagai solusi atas masalah pelayanan yang berbelit.
Menekankan pentingnya penggunaan sistem digital dalam pengelolaan pendapatan daerah guna mencegah kebocoran keuangan sekaligus meningkatkan penerimaan.
Calon ini yakin dengan gagasan dan strategi yang ia tawarkan, visi Kota Ambon sebagai kota yang maju, nyaman dan berkeadilan dapat diwujudkan dengan baik.
Baca Juga:
Pemuda Katolik Dukung Robby Sapulette Sekretaris Kota Ambon: https://sentralpolitik.com/pemuda-katolik-dukung-robby-sapulette-sekretaris-kota-ambon/
Hasil penilaian dari tahapan ini selanjutnya akan menjadi bahan pertimbangan dalam penentuan pejabat definitif yang akan mengemban tugas strategis tersebut. (*)






