Di Masela, proyek belum berjalan. Pipa belum diturunkan. Tangki belum berdiri. Kilang belum terlihat. Tetapi sesuatu telah lebih dahulu tiba: angka.
—
Puluhan ribu tenaga kerja. Tiga puluh ribu pekerjaan. Angka itu berjalan lebih cepat daripada kapal survei dan lebih cepat daripada dokumen teknik. Ia hadir di baliho, seminar, pidato, dan percakapan di warung kopi.
Masyarakat kemudian mulai membayangkan sesuatu yang sangat masuk akal. Anak-anak muda memakai helm putih, bekerja di kilang, menjadi operator, supervisor, atau engineer.
Seolah-olah proyek akan membuka pintu besar dan berkata: silahkan masuk, selama Anda berasal dari daerah ini.
Masalahnya, proyek LNG tidak membaca baliho. Ia membaca sertifikat. Ia membaca pengalaman. Ia membaca jam terbang.
Dan ketika proyek bernilai puluhan miliar dolar mulai dibangun, pertanyaan yang diajukan bukanlah: Anda berasal dari mana? Pertanyaannya adalah: apa yang pernah Anda kerjakan?
“OPERATOR BALIHO”
Spanduk mengatakan tiga puluh ribu tenaga kerja. Dokumen proyek mungkin mencari dua belas commissioning engineer yang pernah menghidupkan kilang.
Spanduk berbicara tentang ribuan pekerjaan. Turbin hanya membutuhkan satu orang yang benar-benar tahu cara menyalakan.
Masyarakat membayangkan operator. Proyek mencari LNG start-up specialist. Masyarakat membayangkan pengawas. Proyek mencari process safety engineer. Masyarakat membayangkan engineer. Proyek mencari cryogenic specialist.
Nama-nama itu terdengar asing bukan karena proyek terlalu rumit, melainkan karena pengalaman seperti itu memang belum pernah tumbuh di daerah yang belum pernah memiliki industri LNG.
Tidak ada sekolah yang meluluskan commissioning engineer dalam enam bulan. Tidak ada seminar yang menghasilkan operator LNG dalam satu akhir pekan.
Tidak ada pelatihan singkat yang mengubah seseorang menjadi ahli sistem kriogenik yang bekerja pada suhu minus seratus enam puluh dua derajat Celcius.
Yang diumumkan dengan huruf besar adalah jumlah pekerja. Yang dicetak kecil-kecil adalah jenis pekerja.
Masyarakat mendengar puluhan ribu pekerjaan. Yang tidak banyak dibicarakan adalah bahwa sebagian pekerjaan paling penting justru membutuhkan pengalaman yang bahkan belum sempat lahir di daerah tersebut.
Bayangkan sebuah rumah sakit besar. Ribuan orang boleh datang. Tetapi ketika operasi dimulai, ruangan hanya membutuhkan beberapa orang yang benar-benar tahu apa yang sedang mereka lakukan.
Industri LNG bekerja dengan cara yang hampir sama. Di ruang kontrol bernilai miliaran dolar, kadang hanya beberapa orang yang menentukan apakah seluruh fasilitas dapat berjalan atau berhenti.
Kilang Tangguh pernah mengalaminya. Kilang Bontang mengalaminya. Berbagai proyek besar di Indonesia menunjukkan satu kenyataan yang sama: proyek datang lebih cepat daripada sekolah, lebih cepat daripada sertifikasi, dan lebih cepat daripada pengalaman.
Bontang tidak menjadi Kota LNG dalam lima tahun. Dibutuhkan puluhan tahun untuk melahirkan generasi operator, supervisor, dan engineer.
Tangguh juga membutuhkan waktu panjang untuk meningkatkan porsi tenaga lokal pada posisi-posisi inti. Pengalaman tidak lahir dari spanduk. Ia lahir dari puluhan tahun bekerja.
Ironisnya, semakin besar proyek, semakin sederhana kampanyenya. “Tiga puluh ribu pekerjaan.”
Kalimat itu mudah diingat. Tetapi kalimat seperti process safety, commissioning, cryogenic system, atau LNG operation jauh lebih sulit dimasukkan ke dalam baliho.
DUA DUNIA

Akhirnya masyarakat berada di antara dua dunia. Dunia pertama adalah dunia harapan yang penuh angka dan janji. Dunia kedua adalah dunia proyek yang penuh standar dan persyaratan. Yang satu berbicara tentang jumlah. Yang lain berbicara tentang kemampuan.
Mungkin suatu hari nanti kapal-kapal besar akan datang. Hotel penuh. Pelabuhan ramai. Kendaraan proyek memenuhi jalan.
Dan masyarakat mulai membaca nama-nama pada kartu identitas pekerja. Sebagian dari Balikpapan. Sebagian dari Batam. Sebagian dari Bontang. Sebagian dari Surabaya. Sebagian dari Jakarta. Sebagian lagi mungkin dari luar negeri.
Lalu pertanyaan lama kembali muncul; Bukankah katanya tenaga kerja lokal? Jawabannya sederhana. Tenaga kerja lokal memang dibutuhkan, tetapi proyek internasional juga membutuhkan pengalaman yang belum tentu tersedia dalam waktu singkat.
Mungkin persoalan terbesar bukanlah jumlah pekerjaan. Persoalan terbesar adalah jarak antara mimpi dan persiapan.
Baca Juga:
Pengelolaan Blok Masela di Maluku Berbasis Ekologi Lingkungan: https://sentralpolitik.com/pengelolaan-blok-masela-di-maluku-berbasis-ekologi-lingkungan/
Kita terlalu cepat menghitung helm, tetapi terlalu lambat menyiapkan orang yang akan memakainya. Kita terlalu cepat menjual masa depan, tetapi terlalu lambat membangun manusia yang akan tinggal di dalamnya. (*)
SELAMAT BERMIMPI !!!






