AMBON, SentralPolitik.com – Mitigasi bencana Terpadu perlu diterapkan pada Proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela yang fokus pada pengembangan proyek gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG).
Proyek ini berada di kawasan Laut Arafuru, Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya, Propinsi Maluku.
Dari kacamata geodinamika, wilayah ini memiliki tatanan tektonik yang sangat aktif dan kompleks akibat interaksi penunjaman Lempeng Indo-Australia di bawah Busur Banda.
Johny Sumbung, mantan Direktur Kesiapsiagaan dan Direktur Mitigasi BNPB ini, Sabtu (19/9/2026) menjelaskan, zona konvergensi ini membentuk Palung Timor-Tanimbar.
‘’Palung ini berpotensi menghasilkan gempa dangkal hingga dalam bermagnitudo besar, lengkap dengan potensi pelepasan energi gempa (seismic hazard) dan risiko tsunami,’’ tandasnya,
Oleh karena itu, kekuatiran mengenai ketahanan infrastruktur migas lepas pantai (offshore) maupun fasilitas darat (onshore) di area rawan bencana ini sangat valid dan krusial untuk dikaji.
Dari sudut pandang rekayasa geofisika dan teknis (geotechnical engineering), pengoperasian blok migas di kawasan rawan gempa seperti Masela pada dasarnya sangat memungkinkan.
‘‘Asal menerapkan prinsip mitigasi kebencanaan terpadu sejak tahap perancangan,’’ ingat Ketua Satuan Gugus Khusus Kebencanaan HAKLI ini.
DESAIN FASILITAS KILANG
Katanya, mendesain fasilitas kilang dan konstruksi anjungan harus berbasis Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA).
Serta memperhitungkan percepatan tanah maksimum (Peak Ground Acceleration/PGA) untuk mengantisipasi guncangan kuat.
Selain itu, teknik pengeboran modern dan mitigasi risiko kelautan harus mampu memprediksi fenomena gerakan tanah bawah laut (underwater landslides).
Gerakan ini yang dapat dipicu oleh guncangan seismik dan berpotensi merusak infrastruktur pipa penyalur di dasar laut
Pada sisi lain, penting untuk membedakan antara risiko gempa alami tektonik dan potensi gempa terinduksi (induced seismicity).
Penyerapan atau penginjeksian fluida kembali ke dalam reservoir, terutama jika menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS), memerlukan pemantauan jaringan mikro-seismik (micro-seismic monitoring) secara real-time.
‘’Ini untuk memastikan tekanan pori di dalam batuan reservoir tidak memicu reaktivasi sesar lokal di sekitar area pengeboran,’’ ingatnya.
Dengan integrasi analisis bahaya seismik yang ketat, teknologi struktur tahan gempa, serta sistem peringatan dini tsunami yang terhubung ke jaringan pemantauan nasional, risiko operasional di Blok Masela dapat ditekan seminimal mungkin tanpa mengabaikan aspek keselamatan jiwa dan lingkungan.
INI CATATAN GEMPA DI TANIMBAR
Catatan SentralPolitik.com; Kepulauan Tanimbar berada di Jalur Banda, pertemuan Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Banda, zona tektonik sangat aktif.
Wilayah kabupaten ini juga masuk Cincin Api Pasifik dengan aktivitas kegempaan tinggi.
Badan Geologi Kementerian ESDM secara resmi menyebutkan Kabupaten Kepulauan Tanimbar tergolong rawan gempa bumi dan tsunami.
Pada 10 Januari 2023, terjadi Gempa M 7,5–7,6 dengan kedalaman 105 km. Akibatnya sekitar 600 rumah rusak dan 11 orang luka-luka.
Pada Desember 2021 terjadi lagi Gempa M 7,3; Oktober 2025 (M 6,8), Januari 2026 (M 5,6) dan gempa-gempa susulan terus terjadi.
BMKG sendiri mengingatkan masyarakat hidup di daerah rawan, sehingga bangunan sebaiknya tahan gempa dan warga mengenali jalur evakuasi.
Meski, tidak semua gempa berpotensi tsunami namun tergantung kedalaman dan jenis patahan sehingga tetap waspada.
PULAU TIMBUL
Gempa pada kawasan itu mengakibatkan fenomena alam berupa munculnya lumpuh di permukaan air yang oleh masyarakat setempat menyebutnya sebagai “Pulau Timbul”.
Pulau Timbul ini terjadi di perairan Desa Teinaman, Tanimbar Utara dan mengakibatkan warga sempat panik dan mengungsi pasca gempa M 7,5.
BMKG dan PVMBG menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan Gunung Lumpur Bawah Laut (Mud Volcano) dan masuk kategori fenomena alam biasa.
Baca Juga:
Ganti Rugi Tanaman Proyek Blok Masela Masuk Tahap Penilaian KJPP: https://sentralpolitik.com/ganti-rugi-tanaman-proye-blok-masela-masuk-tahap-penilaian-kjpp/
BMKG juga mencatat kalau fenomena serupa sudah terjadi 6 kali sebelumnya di wilayah itu. (*)






