PENYADAPAN oleh Kapolri LSP cs terhadap Presiden Prabowo masih sangat hangat untuk diulek. Apalagi sampai melibatkan tokoh Pers Nasional sekelas Dahlan Iskan.
Noh, berikut analisis pakar intelejen yang juga mantan staf Kantor Staf Presidenan (KSP) periode 2019-2024, Ridwan Habib MSi. Berikut pengakuan Tokoh Pers Nasional, Dahlan Iskan. Apakah ada upaya makar?
—
Kita mulai membahasnya dengan pengakuan Dahlan Iskan soal penyadapan. Dalam live streaming di chanel Youtube DISmorning pada Kamis (5/11/2026) pagi, Dahlan Iskan mengaku tidak menyadari kalau dirinya (ponsel) disadap.
Dalam siaran langsung itu, mantan petinggi Jawa Pos ini mengakui kalau alat penyadapan dewasa ini sangat canggih, tidak menggunakan alat (bros atau peniti) lagi, tapi pakai software.
Karena itu tidak dapat dideteksi. ‘’Tapi saya sudah merasa (penyadapan) sudah lama sekali. Merasa ya bukan membuktikan,’’ ceritanya.
‘’Jadi saya punya felling saja. Kalau ada teman yang mengontak saya yang agak sensitive, saya bilang eh, telepon saya disadap lho,’’ katanya sambil tertawa. ‘’Maksud saya nggak usah lho ngomong yang sensitive. Toh saya bukan siapa-siapa lagi,’’ sambungnya.
Sekedar tau, selain Presiden Prabowo yang menjadi korban, ada sekian banyak pejabat dan pengusaha termasuk tokoh Pers Nasional yakni Dahlan Iskan dan Karni Ilyas.
LIMS
Masih dalam siaran langsung itu, DISmorning menampilkan Pakar dan Pengamat Intelejen yang juga staf KSP periode 2019-2024, Ridwan Habib MSi.
Ia menyebut ada motif dibalik 4 pelaku utama yang saat ini dikerangkeng polisi. Penyadapan canggih ini menggunakan LIMS (Lawful Interception Management System), sistem resmi milik Polri.
Pembajakan berlangsung ditengah-tengah percakapan. ‘’Operator mengcopy salinan terhadap nomor-nomor yang menjadi target LIMS. ‘’
’’Karena itu seseorang yang disadap, sama sekali tidak merasakan apapun. Telpon tetap biasa, tidak ada delay, tidak ada jeda, karena prosedurnya bukan pada perangkat, tapi ada di operator,’’ jelasnya.
Ada dugaan selain LIMS, para pelaku juga menggunakan sofware sehingga ‘zero klik’. Maksudnya, kalau sebelumnya target harus mengklik sesuatu seperti email, atau file PDF, gambar, sehingga ketika dibuka akan mengaktifkan softwarenya.
Tapi penyadapan dewasa ini sudah zero klik dalam arti sudah masuk target.
‘’Jadi memasukan nomor HP target kedalam sistim maka selesai. Semua chat maupun komunikasi telp langsung tersadap, masuk di leptop atau ponsel pelaku,’’ katanya.
Dengan cara ini apapun yang dilakukan korban, termasuk membuka PIN mobile banking akan terekam semuanya secara utuh.
TERBONGKAR
Satu minggu sebelum kasus ini terbongkar, BIN (Badan Intelejen Nasional) mulai mencurigai komunikasi Presiden Prabowo sudah tidak aman.
Sedangkan cerita mengenai mega kejahatan ini ternyata soal keberadaan Server. Nah, soal server, Ridwan menerangkan kalau pada sistim LIMS, seharusnya server berada di Mabes Polri.
Hanya saja karena setelah pencopotan LSP sebagai Kapolri, pada sekira akhir Oktober 2026, sebagian server dipindahkan ke rumah salah satu pelaku.
Sehingga pada saat pemeriksaan oleh Satgas Bareskrim dan Propam Polri, para pelaku tidak bisa mengelak, karena sudah ketahuan menggunakan alat server tadi.
Padahal Server itu seharusnya berada di Teknologi Informasi Komunikas (TIK) Mabes Polri. Pada titik ini, para pelaku sudah melanggar prosedur.
Karena itu staf-staf ‘kroco’ di Mabes Polri kemudian membongkat sindikat yang melibatkan mantan para pimpinannya sendiri, termasuk LSP.
‘’Jadi semuanya ini terjadi karena kelengahan atau kecerobohan para tersangka itu,’’ katanya.
PERANGKAT KEPRESIDENAN
Soal keamanan komunikasi Presiden, sebetulnya di lingkungan istana ada perangkat yang bernama ponsel Kripto. Telepon jenis ini memang sudah disiapkan oleh Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN).
Fungsi telepon jenis ini melindungi penggunanya dari Sistem LIMS termasuk sofware atau aplikasi yang lain.
Tapi masalahnya telp jenis ini adalah telpon khusus dan tersandi khusus sehingga komunikasinya terjeda beberapa detik.
Biasanya presiden akan menggunakan ponsel jenis ini bila ia dan rombongan melakukan kunjungan ke luar negeri.
Tapi dalam kondisi normal menggunakan HP seperti kebanyakan. Namun dengan situasi republik dengan masalah sebanyak ini, akan repot dalam komunikasi dengan telepon Kripto tadi.
BEDA ALAT POLISI DENGAN KPK
Kembali ke Sistem LIMS, ia menyebutkan jarak alat dengan target yang disadap bukan menjadi masalah, sebab sudah menggunakan transmisi Cyber.
Alat milik Polisi sebetulnya jauh lebih canggih dari milik KPK RI. Alat milik KPK mewajibkan penyadap harus mendekat ke sasaran, paling jauh satu kilometer.
Sedangkan milik kepolisian sudah ada LIMS ditambah lagi dibackp up mobile layer tapping maka jauh lebih unggul dari apa yang selama ini lembaga anti rasuah mengoperasikannya.
So, dengan alat secanggih itu berarti kite-kite yang di Ambon akan enak disadap dari jauh seperti dari Jakarte sana…
MOTIF PENYADAPAN
Soal motif sebenarnya para pelaku melakukan penyadapan sebetulnya kembali ke proses penyelidikan oleh Kepolisian yang sementara berjalan.
Hanya saja Ridwan Habib menjelaskan ada 4 motif dalam penyadapan yakni Money (Uang/ekonomi), Ideology (Ideologi), Coercion (Paksaan/Pemerasan) dan Ego (Ambisi Pribadi/Kelompok). Singkatnya MICE…
Soal Money ia meragukannya. Karena para pelaku sudah kelebihan bahkan bergelimpangan harta.
Sedangkan soal Ideologi, ia meragukannya. Mengingat LSP adalah mantan Kapolri dan para pejabat lain yang tentu bukan sekelas teroris dan lainnya.
‘’Mosok mantan Kapolri dan KSP tiba-tiba jadi teroris, nggak mungkin itu,’’ katanya sambil tertawa.
Motif ketiga yakni Coercion. Coercion (Paksaan/ Pemerasan) pada dasarnya merupakan pengumpulan data terhadap target.
Pada saat tertentu, para pelaku bisa memaksa target (korban) mengikuti keinginan pelaku.
Sedangkan motif lain yakni Ego (Ambi Pribadi/Kelompok). Dengan motif ini tidak mungkin, misalnya, LSP ingin menjadi Presiden atau jabatan lain.
Dengan 4 motif ini, bagi Ridwan, tidak mungkin Ego menjadi motif utama.
MOTIF COERTION
Bagi Ridwan para pelaku kemungkinan menggunakan motif Coercion untuk melakukan aksi mereka.
‘’Jadi bagi saya, kemungkinan para pelaku mencari bahan yang bisa digunakan untuk Coercion. Jadi saya kira Coercion inilah motif terkuat,’’ katanya.
Dengan motif ini, jangan heran kalau para pelaku menggunakan motif dengan menargetkan pejabat, politisi, pengusaha, tokoh pers (media), ketua-ketua Ormas, LSM dan lainnya.
Bagaimana dengan motif politik? Tanya Dahlan Iskan di diskusi itu. ‘’Oh kalau (kepentingan) politik motifnya ada di C (Coercion),’’ jawab Ridwan.
Ia bercerita intelejen-intelejen asing biasanya menargetkan para diplomat muda yang pertama kali menginjakkan kakinya di luar negeri.
Karena itu jangan heran kalau para diplomat muda sebelum bertugas di LN harus melewati pelatihan intensif selama 3 bulan oleh Badan Intelejen Nasional (BAIS).
MAKAR?
Kembali pada kepentingan LSP cs dalam aksi penyadapan, Ridwan menyebut, penyadapan sangat variatif, mulai dari presiden sampai ke tokoh Parpol dan media.
‘’Maka kesimpulan sementara para analis mengindikasikan, para pelaku melakukan tindakan penyadapan untuk menguasai semua lini kehidupan Indonesia,’’ tegasnya.
Apalagi ia menyebut, sebelum adanya Muktamar NU, para pelaku (LSP) mengumpulkan sekira 3.000 orang Ex anggota Jamaah Islamiah (JI) yang militan di Solo. Para Napiter juga bergabung.
Selain menjadikan mereka sebagai Ormas, pelaku juga menjadi Ketua Dewan Pembina di Ormas. Lengkap dengan perangkat seperti seragam dan rompi.
Anehnya, meski non Muslim, LSP juga ikut mendengungkan takbir saat mendeklarasikan Ormas yang diberi nama Garda Satya Indonesia itu.
Apalagi secara terbuka LSP juga memiliki jaringan Buruh yang luar biasa. Bahkan di hadapan para buruh pernah ia menyebut akan memimpin demonstrasi bila pemerintah tidak memperhatikan nasib kaum buruh.
Jadi, sambung Ridwan, kemungkinan bila ada pergerakan massa, LSP bisa sekali menekan tombol 100 ribu orang alan berkumpul di Jakarta.
Soal kehadiran puluhan ribu Marinir di Jakarta apa ada kaitannya dengan kasus LSP dan kehadiran Ormas itu?
Ridwan menyebut, ada banyak faktor tentang kahadiran TNI di Jakarta. Selain menjaga Jakarta, pada 5 November 2026 juga bertepatan dengan kehadiran Jokowi sebagai saksi di sidang kasus dugaan Ijasah Palsu di PN Jakarta Timur.
Sebelum sidang, informasi yang beredar selain membawa Ijasah Asli, Jokowi juga akan mendapat pengawalan dari 8.000-an orang.
‘’Nah, kalau massa itu bertemu dengan pendukung Roy Suryo dan dr Tifa, dikuatirkan akan terjadi bentrok horizontal,’’ katanya.
Belum lagi ada GRIB Jaya pimpinan Rosario de Marshall alias Herkules ‘dibelakang’ Prabowo.
Pada sisi lain, saat ini sedang berjalan perbaikan-perbaikan di internal Kepolisian, apalagi Kapolri yang baru menangkap mantan Kapolri.
Dengan kondisi ini, bila hanya mengandalkan aparat kepolisian tentu beresiko. Karena itu Marinir dari sejumlah daerah termasuk Surabaya diboyong masuk dan menjaga ibukota.
Nah, apakah negara saat ini tengah berhadapan dengan upaya-upaya kudeta atau makar? Kita tunggu kepolisian bergerak dan tentu Hakim memutus di pengadilan.
Oiya, peristiwa hari ini mengingatkan kita pada selentingan Ketua ProJo, Budi Arif soal ” kesiapan” dan akhir dari pemerintahan ini… bla.. bla… bla..
Baca Juga:
NOVEMBER LATEN; https://sentralpolitik.com/november-laten/
Sudahlah… Yang pasti, dari jejak langkah buah catur yang terus bergerak, harus kita akui kalau Prabowo Subianto sangat cerdas dalam mengelola percaturan politik saat ini. Ditunggu… (*)
#SentralSepekan






