Banner Iklan
Sentral Sepekan

Kick Up; Bahlil Antara Prabowo dan Jokowi..! 

×

Kick Up; Bahlil Antara Prabowo dan Jokowi..! 

Sebarkan artikel ini
SKETSA Bahlil diantara Jokowi dan Prabowo
SKETSA Bahlil diantara Jokowi dan Prabowo. F: AI-

Bahlil Lahadalia saat ini tengah menjadi sorotan nasional. Lepas dari tudingan “Ikut Rapat Dewan Jenderal”, sebetulnya ia saat ini serasa sedang melayang…

Presiden Prabowo sedang membuatnya “melayang”. Melayang, antara Menteri ESDM dan Menko Hilirisasi dan Investasi.

Bagaimana analisanya? Mari kita ulas sambil mengamati mobil “Pick Up” dengan muatan kader Golkar…

—

Orde Baru punya satu istilah yang sangat membumi; “Kick Up”! Kick Up itu sebetulnya cara menjatuhkan musuh dengan menendang ke atas.

Ini lebih halus ketimbang Kick Down. Sebab jatuh kebawah itu biasa, tapi dengan menendang ke atas itu berarti jatuh dari ketinggian. Tentu jauh lebih “sakit”.

DI ANTARA PRABOWO DAN JOKOWI

Dalam dinamika politik nasional, tak terasa, Bahlil Lahadalia sedang sementara berada dalam kelas ujian. Ujian Loyalitas Politik, Posisi Strategis, dan Ujian Kesetiaan di tengah dinamika kekuasaan.

Bahlil memiliki posisi politik yang unik. Ia dikenal sebagai figur yang dekat dengan Jokowi, tetapi tetap berada di lingkaran kekuasaan Prabowo sebagai Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar.

Posisi ini menjadikan Bahlil salah satu figur yang menarik untuk dianalisis dalam membaca peta kekuatan politik nasional ke depan.

WARISAN POLITIK JOKOWI

Perjalanan politik Bahlil mengalami akselerasi signifikan pada era pemerintahan Jokowi. Ia dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis hingga akhirnya menjadi Ketua Umum Partai Golkar.

Bahkan, berkembang persepsi di tengah publik kalau naiknya Bahlil menjadi Ketua Umum Golkar tidak terlepas dari pengaruh dan dukungan politik Jokowi.

Katanya sih, ada operasi senyap, sunyi tapi senyum dalam meraih tampuk kekuasaan di Partai Golkar.

Persepsi ini tentu menarik karena Golkar bukan partai kecil. Golkar memiliki sejarah panjang, struktur organisasi kuat, serta pengaruh besar dalam konfigurasi politik nasional.

Karena itu, kepemimpinan Bahlil bukan hanya soal kepentingan internal partai, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana Golkar menempatkan diri dalam pertarungan kepentingan politik nasional.

Soal relasinya dengan Pak Jokowi, konon, katanya, hanya Mas Bahlil satu-satunya Menteri yang mampu membuat Jokowi tersenyum, meski dalam kondisi ke-ruwet-an. Hemmm… .

ERA PEMERINTAHAN PRABOWO

Pergantian presiden ternyata tidak membuat posisi Bahlil melemah. Ia justru tetap mendapatkan kepercayaan yang sama.

Duduk di kursi strategis, sebagai Menteri ESDM sekaligus masih Ketua Umum Golkar.

Satu pertanyaan yang cukup menggelitik; apakah Bahlil telah sepenuhnya menjadi bagian dari kekuatan politik Prabowo? Atau masih memiliki ikatan loyalitas politik dengan Jokowi?

Di sinilah letak kompleksitas posisi Bahlil. Apalagi dinamika politik terkini, sedang berjalan dalam lintasan kedaruratan…

Ia memiliki sejarah kedekatan dengan Jokowi, tetapi tanggung jawab politik dan pemerintahan  dalam orbit kepemimpinan Prabowo.

PENYADAPAN DAN UJIAN KEPERCAYAAN

Di tengah munculnya kasus dugaan penyadapan, dinamika hubungan Prabowo dan Jokowi semakin menarik untuk kita cermati.

Publik mulai mengaitkan berbagai peristiwa politik dan hukum dengan kemungkinan adanya ketegangan di antara kedua tokoh itu.

Istilah ketika dua gajah sedang berkelahi, tentu tentu akan ada Pelanduk yang mati. Noh, siapa pelanduknya? Apakah cuma LSP cs, atau ada “Pelanduk Emas” yang nanti ikut terseret?

Pada titik ini, kita tentu tidak bisa mengesampingkan, fakta hukum, pernyataan para pihak, dan spekulasi politik.

Sejauh ini sih, belum ada bukti konkrit yang terang menyimpulkan bahwa kasus penyadapan merupakan instrumen konflik langsung antara Prabowo dan Jokowi.

Tapi dalam situasi seperti ini, posisi Bahlil menjadi semakin menarik. Ia berada di antara dua figur yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan politiknya.

UJIAN SESUNGGUHNYA

Ujian politik sesungguhnya bagi Bahlil dan Partai Golkar justru akan terjadi apabila wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka benar-benar masuk ke ke ranah konstitusional di DPR.

Gibran adalah putra Jokowi. Sementara Bahlil merupakan figur yang selama ini ‘dipersepsikan’ memiliki kedekatan politik dengan Jokowi, tetapi pada saat yang sama ia menjadi bagian penting dari pemerintahan Prabowo.

Jika proses tersebut benar-benar bergulir, sikap Fraksi Partai Golkar di DPR akan menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah keberpihakan politik Bahlil.

Apakah Golkar akan berdiri dibelakang Gibran sebagai representasi kepentingan politik keluarga Jokowi? Ataukah Golkar akan mengikuti sikap politik pemerintahan Prabowo?

Atau pula Bahlil akan mengambil posisi sebagai penengah dengan tetap mengedepankan mekanisme konstitusional?

Tentu, pemakzulan bukan sekadar keputusan politik DPR. Ada mekanisme dan persyaratan konstitusional yang harus dipenuhi, termasuk keterlibatan Mahkamah Konstitusi dan MPR.

Namun, secara politik, sikap Golkar akan menjadi perhatian besar. Sebab, keputusan partai dalam momentum seperti itu akan memperlihatkan bagaimana Bahlil menempatkan loyalitas politiknya.

Yah, apalagi kondisi ini tidak membutuhkan seorang yang netral, tapi keberpihakan akan menjadi penentu dalam sebuah pertarungan.

JEMBATAN ATAU MEMILIH

Bahlil menghadapi posisi yang tidak sederhana. Terlalu dekat dengan Jokowi, loyalitasnya kepada Prabowo bisa dipertanyakan…

Tapi terlalu jauh dari Jokowi, ia harus membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri dengan kekuatan politik sendiri.

Ia harus mampu menjaga hubungan dengan keduanya. Disini ia berpotensi menjadi jembatan politik yang strategis.

Namun, ketika dua kekuatan besar mulai berjarak, posisi di tengah tidak selalu menjadi tempat yang aman.

Dalam politik, mempertahankan hubungan dengan dua kekuatan yang berseberangan jauh lebih sulit daripada memilih salah satunya.

KICK UP

Ingat, dua tahun pemerintah, Prabowo sebetulnya memiliki cara tersendiri dalam mengatur bidak caturnya di Kabinet.

Sebut saja AHY, Ketua Partai Demokrat. Sepertinya Prabowo sengaja mem-Kick Up-nya di Menko Infrastruktur dan Kewilayahan. Tentu jabatan Menko kurang strategis ketimbang Kementerian Teknis.

Begitupun Cak Imin, Ketua PKB yang sengaja di kotakan dalam ruangan Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Begitupun Zulhas (PAN) yang harus puas di kursi Menko Pangan. Ada lagi Anis Matta dan bos PRIMA yang terpaksa nyaman di Wakil Menteri.

SKRIPSI

Noh, dinamika saat ini akan menjadi ujian akhir bin SKRIPSI bagi MBG alias Mas Bahlil Ganteng.

Sebab pada akhirnya, loyalitas politik seseorang tidak selalu bisa diukur dari pernyataan atau kedekatan personal.

Loyalitas justru terlihat ketika kepentingan politik dua kekuatan besar yang selama ini berada dalam satu barisan mulai berhadapan.

Bahlil hari ini berada di antara dua poros kekuasaan: Jokowi sebagai figur yang dipersepsikan ikut membuka jalan politiknya menuju puncak Golkar, dan Prabowo sebagai Presiden yang saat ini memberinya kepercayaan dalam pemerintahan.

Jika dinamika politik Prabowo dan Jokowi semakin terbuka, terutama apabila muncul proses konstitusional terkait posisi Gibran, maka MBG akan menghadapi ujian besar.

Sikap Golkar di DPR kelak akan menjadi salah satu cermin paling nyata untuk membaca ke mana arah politik Bahlil Lahadalia.

Sebab, ujian terbesar seorang pemimpin partai bukan ketika berada dalam situasi politik yang nyaman, melainkan ketika harus menentukan sikap di antara dua kekuatan besar dengan kepentingan berbeda.

Dan pada momentum itulah publik akan melihat: Bahlil sesungguhnya berdiri di mana, bersama Prabowo atau tetap dalam orbit politik Jokowi?

Ingat saat ini posisi kaki MBG berada pada dua pijakan. Satunya di Kementerian ESDM, sisanya di Menko Hilirisasi dan Investasi.

Kalau kemudian Prabowo menendangnya naik ke atas sebagai Menko, itu berarti MBG tidak bisa dinilai peraih Summa Cum Laude di Kabinet Merah Putih…

Baca Juga:

Ini Motif Penyadapan Presiden versi Staf KSP, Berikut Pengakuan Dahlan Iskan; Ada Makar? https://sentralpolitik.com/ini-motif-penyadapan-presiden-versi-staf-ksp-berikut-pengakuan-dahlan-iskan-ada-makar/

Atau malah Prabowo “meng-Kick Down” Bahlil dalam dinamika yang terus bergelombang. Bagaimana akhirnya? Kita tunggu percaturan ini selesai… Oke!? Gass… (*)

#SentralSepekan

Baca Berita Menarik Lainnya! Dapatkan informasi terbaru dari SentralPolitik.com
Channel Telegram ➜