OPINI

PRABOWO DAN ISLAM “ALA-ALA”

×

PRABOWO DAN ISLAM “ALA-ALA”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Zainal Arifin Sandia *)

Zainal Arifin Sandia
Zainal Arifin Sandia, Pegiat Sombar Negeri Tinggal di Tulehu. f:KP-

Jagat dunia daring di Indonesia riuh lagi. Kali ini, boleh dikata bobotnya terbilang rada heboh mengingat topik percakapannya menyasar pada salah satu isu paling sensitif di tanah air ini, yaitu agama.

Betapa tidak, jamak diketahui, sejarah panjang bangsa Indonesia sedari era pra kemerdekaan (dulu) hingga pasca kemerdekaan (kini), mengonfirmasi kebenaran bahwa isu agama, dalam banyak kasus, diandaikan bagai “api” yang teruji punya daya potensial dan sangat efektif jika dipakai guna memanas-manasi, membakar, dan memberhangus ikatan-ikatan sosial kemanusiaan, solidaritas sosial dan soliditas sosial, baik dalam konteks kehidupan berkomunitas, bermasyarakat, beragama, berbangsa maupun bernegara.

Seperti tersaksikan, keriuhan itu mengemuka akibat kemunculan buku berjudul Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam, terbitan Atmosphere Publishing House pada Juli 2025.

Meski dikenalkan untuk pertama kalinya ke publik bertepatan dengan momen pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS pada tanggal 26 Agustus 2025 di Jakarta, akan tetapi keriuhan yang menyusulnya baru menderas di dunia jagat daring sekitar September 2026.

Lantas, apa pemicu keriuhannya? Inilah pertanyaan dasar dan penting. Dan, jawabannya tak lain adalah pengakuan tiga figur publik, pemuka agama sekaligus tokoh nasional yang secara terbuka memberikan pendakuan bahwa mereka sama sekali tidak pernah diajak, diminta, dan dilibatkan dalam proses pembuatan dan publikasi buku Islam Ala Prabowo.

Ketiga pendaku dimaksud adalah KH. Muhammad Said Aqil Siroj (mantan Ketua Umum PBNU), KH. Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (mantan Gubernur NTB),¸dan KH. Abdurahman Alkautsar atau Gus Kautsar (Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri).
Boleh dikata, singkatnya, nama ketiga tokoh berpengaruh tersebut secara sepihak hanya dicatut ke dalam buku yang dibuat atas inisiatif Ketua MPR Ahmad Mujani dan Ketua MUI KH. Anwar Iskadar.

Keriuhan kemudian jadi kian heboh seturut sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) merespon polemik “bebas” antarwarga dunia daring menyangkut buku Islam Ala Prabowo itu.

Pada laman muidigital (mui.or.id.), tanggal 10 September 2026, MUI mengurai telah menerbitkan surat bernomor Kep-97/DP-MUI/IX/2026 yang dibubuhi tanda tangan oleh KH. M. Cholil Nafis (Wakil Ketua Umum) dan Dr. Amirsyah Tambunan (Sekretaris Jenderal).

Lewat surat itu, MUI hendak menjelaskan ketidakterlibatan mereka terkait penerbitan buku Islam Ala Prabowo.

Selain MUI, sikap yang relatif sama juga datang dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Melalui laman baznas.go.id tertanggal 7 September 2026, Ketua lembaga filantropi umat ini, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., memberikan pernyataan bahwa BAZNAS tidak terlibat dalam pendanaan pembuatan dan penerbitan Islam Ala Prabowo.

Pernyataan kedua lembaga umat Islam di level nasional itu tak pelak memicu tanya serius. Kenapa langkah itu diambil? Apa kepentingannya? Ada apa dengan kedua lembaga itu? Hingga, jangan-jangan pernyataan itu hanyalah satu cara baik untuk melakoni aksi “cuci tangan” atau “lempar batu sembunyi tangan” belaka, atau mungkin juga hanya sekadar unjuk gaya permak “wajah” tok di depan umat?

Tentu, jawabannya bisa macam-macam dan sangat digantungkan kadar kepentingan siapa (orang atau kelompok) dan apa (materi atau lembaga), sejauh mana kepentingan itu bekerja? Berikut, bagaimana signifikansi efeknya terhadap siapa (mind actor) dan apa (status quo)? Artinya apa?

Dalam kasus buku seperti Islam Ala Prabowo, terbuka ruang yang memungkinkan relasi kuasa antar aktor, antar kelompok, dan antar lembaga terbentuk dan bekerja dalam talian-talian kepentingan tertentu (mind actor dan status quo), yang dalam batas-batas tertentu bisa saja relatif sama atau berbeda, sepihak atau antar pihak, temporal atau berjangka.

Sebab itu, tak terhindarkan jika muncul amatan yang menali kemunculan buku Islam Ala Prapro dan keriuhan yang mengikutinya dengan sebentuk introduksi personal, pencitraan atau kontestasi pada Pemilu 2029. Dan, no problema dengan itu. Terlebih di erena kebebasan berekspresi dan demokrasi.

Jika periksa, sesungguhnya, buku Islam Ala Prabowo itu tidak perlu ditanggapi secara berlebihan (over thingking atau over reaction). Hal ini dapat dilihat dari pilihan dan pemakaian kata “ala” pada bukunya yang secara generik menjelaskan makna penampakan dari sebuah gaya atau model.

Lebih jauh, pada anak judul bukunya, “Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam”, tampak terang memberi tekanan pada aspek pengamalan.

Jadi, cenderung menerangkan sebentuk “wajah” ekspresif atau praksis dalam beragama. Pendek kata, buku Islam Ala Prabowo tampak jelas tidak dimaksudkan sama sekali untuk menjelaskan atau memperkenalkan ajaran Islam dalam konstruksi cara pandang doktrinal yang ketat.

Dalam kalimat lain, Buku Islam Ala Prabowo secara sengaja dihadirkan dengan maksud untuk memperlihatkan sisi perilaku beragama Prabowo di ruang publik.

Kemunculan buku baik yang berisi gagasan (diskursus) maupun tuangan pengalaman (praksis) kehidupan seseorang dalam beragama, sebenarnya bukan sesuatu yang baru dan mengagetkan hingga memicu keriuhan yang heboh.

Pada tahun 2018 misalnya, M. Quraish Shihab telah menulis buku berjudul Islam Yang Saya Anut Dasar-Dasar Ajaran Islam. Sebuah buku yang ditulis guna memperkenalkan ajaran Islam secara “medium” alias tidak terlalu meluas sekaligus tidak terlalu sederhana, dan ditujukan kepada mereka yang belum mengenal atau keliru dalam memahami ajaran Islam.

Jauh sebelum itu, Ahmad Wahib telah menulis gagasannya dengan judul Islam: Menurut Saya = Islam Menurut Allah. Dalam tulisan tertanggal 28 Maret 1969, sebagaimana direkam dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam Catatan Harian Ahmad Wahib, dengan sangat kontemplatif dan imajinatif, Wabih menulis: “Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya.

Aku baru tahu Islam itu menurut HAMKA, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain-lain dan terus terang akau tidak puas. Yang kucari belum ketemu, dan belum terdapat yaitu Islam menurut Alloh, pembuatnya. Bagaimana? Langsung studi dari Qur’an dan Sunnah? Akan kucoba.

Tapi orang-orang lainpun akan beranggapan bahwa yang kudapat itu adalah Islam menurut aku sendiri. Tapi biar yang terpenting adalah keyakinan di dalam akal sehatku bahwa yang kupahami itu adalah Islam menurut Allah. Aku harus yakin itu!”

Akhirnya, kemunculan buku Islam Ala Prabowo tidak perlu disikapi secara reaktif apalagi impulsif. Keriuhan buku ini tak lebih hanya menjelaskan sebuah fenomena politik yang normal dan temporal semata. Tak lebih.

Baca Juga:

Syawal dalam Bisikan Bumi yang Menghangat Fitrah dan Amanah yang Diuji: https://sentralpolitik.com/syawal-dalam-bisikan-bumi-yang-menghangat-fitrah-dan-amanah-yang-diuji/

Pun begitu, kritik juga dibutuhkan, yang mengandaikan kebenaran sebagai pandu yang dipantaskan. Bukan tontonan “panel” fenomena post truth atau hyper-reality yang menjebak. (*)

*) Pegiat Sombar Negeri Tinggal di Tulehu

Baca berita menarik lainnya dari SentralPolitik.com di Channel Telegram