Astaga! Dewan Rame-rame Sangkal Terima Duit Haram SPPD Fiktif

AMBON, SentralPolitik.com _  14 anggota dewan termasuk Ketua DPRD KKT rame-rema membantah menerima aliran dana uang haram SPPD fiktif BPKAD KKT.

Sangkalan ini di sampaikan para anggota dewan ini dalam sidang lanjutan perkara kasus dugaan tindak pidana korupsi BPKAD di PN Ambon, Senin (4/12).

Sementara itu, mantan Ketua DPRD KKT, Jaflaun Batlayeri yang bersaksi mengakui menerima semen. Hanya saja dia tidak tahu asal uang untuk membeli semen.

Jaflaun bersaksi,  bahwa tahun 2020, dia baru membangun rumah. Lasimnya, adat istiadat dan kebiasaan orang Tanimbar, jika ada keluarga yang membangun rumah, pihak-pihak yang memiliki hubungan kekerabatan, akan memberikan seserahan baik berupa barang maupun uang.

Dengan demikian, kata dia, pemberian Maria Goreti Batlayeri dan Yonas Batlayeri dengan membawa 100 sak semen ke lokasi pembangunan rumahnya, merupakan bagian dari seserahan adat.

“Bahwa semen itu di beli dengan uang korupsi SPPD, saya tidak tahu. Kalaupun tahu, pasti saya tolak. Saat itu Reti hubungi saya ‘Ade, itu Usi dan Bu ada antar semen ke rumah,” ujar Jaflaun mengetip perkataan Maria Goreti Batlayeri kala itu.

DUA KALI

Sementara Ketua Komisi B Apolonia Laratmase yang di tuduhkan dua kali menerima uang senilai Rp200 juta di bulan November 2020 dan Rp250 juta di Desember 2020, membantah keras tuduhan tersebut.

Politisi Partai Gerindra ini menyebut dirinya sama sekali tidak mengetahui nominal uang tersebut saat di antar tahun 2020.

“Kalau 2019 dan 2021, pernah di antar oleh ibu Maria Goreti Batlayeri, tetapi tidak di 2020,” tandas Pola.

Pernyataan Apolonia Laratmase ini langsung dibantah Yonas Batlayeri yang mengaku bahwa dirinya di telpon langsung oleh Pola.

Pernyataan Yonas ini makin membingungkan Hakim. Hakim bertanya sebenarnya siapa yang menelepon duluan, apakah Yonas atau Apolonia.

Tetapi Apolonia bisa membuktikan bahwa ada bukti chat via WhatsApp tertanggal 16 Februari 2023. Dimana Yonas yang meminta bertemu duluan. Sementara Yonas hanya bisa menuduh tanpa bisa memberikan bukti apapun, hanya lisan semata.

Kesaksian juga datang dari ASN BPKAD Ais Kejapluan. Dia membenarkan dirinya pernah mengantarkan Maria Goreti Batlayeri ke rumah Apolonia Laratmase, sesuai perintah Kristina Sermatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *